Home > Uncategorized > Memukul anak tuntun anak perilaku agresif

Memukul anak tuntun anak perilaku agresif

INILAH.COM, Jakarta – Mendisiplinkan anak merupakan pekerjaan kunci tiap orang tua. Sebagian besar orang pasti setuju hal ini. Tetapi apakah benar mendisiplinkan anak harus disertai pemukulan atau hukuman fisik lainnya?

The American Academy of Pedatrics (AAP) tidak mendorong pemukulan untuk alasan apapun. Karena cara itu kurang efektif untuk jangka panjang sebagai jalan keluar perubahan perilaku. Sebagai gantinya AAP menyarankan strategi pembatasan waktu ketika anak berperilaku menyimpang. Mereka diberi kesempatan untuk merefleksi terhadap perilaku dan konsekuensi dari aksi mereka.

Peneliti dari Universitas Tulane memiliki fakta dari hasil penelitian yang melibatkan hampir 2.500 anak yang seringkali dipukul pada usia 3 tahun. Ternyata mereka cenderung berperilaku lebih agresif pada saat usia lima tahun.

Riset ini mendukung penelitian awal para peneliti di Universitas Duke tentang dampak dari hukuman fisik kepada anak. Hasil penelitian saat itu adalah bayi yang telah dipukul pada usia 12 bulan lebih rendah nilai tes kognitifnya pada usia tiga tahun.

“Saya sangat gembira dengan ide bahwa saat ini ada beberapa data aktual yang cukup untuk mendukung ahli klinis ketika mereka berbagi perhatian dengan orang tua dalam melawan hukuman yang bersifat fisik,” ujar Dr Jayne Singer, Direktur Klinik Anak dan Program Orang Tua di Rumah Sakit Anak Boston.

Dipimpin oleh Catherine Taylor, studi Universitas Tulane ini adalah yang pertama untuk mengontrol secara simultan variabel antara memukul dan perilaku agersif di kemudian hari. Peneliti menghitung faktor seperti kelalaian ibu, kekerasan di antara kedua orang tua, depresi dan stres keibuan, penggunaan obat dan alkohol ibu, dan bahwa apakah ibu pernah mempertimbangkan aborsi ketika mengandung si anak.

Masing-masing faktor itu berkontribusi terhadap agresivitas perilaku anak pada usia lima tahun. Namun para peneliti tidak bisa menjelaskan semua kecenderungan kekerasan pada usia tersebut. Lebih jauh, hubungan positif antara memukul dengan agresivitas tetaplah kuat.

“Keanehan anak menjadi agresif pada usia lima tahun jika telah dipukul, maka akan menjadi dua kali lipat sebelum studi dimulai dan meningkat 50%,” ujar Taylor.

Grup juga menghitung level variasi agresi alamiah pada anak. Peneliti yakin bahwa bukan hanya anak yang lebih agresif yang lebih banyak dipukul.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics menunjukkan bahwa di luar faktor yang telah disebutkan bisa mempengaruhi perilaku keras pada anak, memukul menyisakan penduga yang kuat.

“Studi mengontrol faktor risiko yang paling umum yang orang pikirkan, berhubungan dengan agresi,” ujar Singer. “Pernyatan tersebut akan memperkuat kepercayaan dengan data yang lebih kuat dalam argumen memerangi hukuman fisik.”

Di antara ibu yang menjadi obyek penelitian, hampir separuhnya (45,6%) dilaporkan tidak melakukan pemukulan, 27,9% menyatakan pernah memukul 1-2 kali, 26,5% dilaporkan memukul lebih dari dua kali. Dibandingkan dengan anak yang tidak dipukul, anak yang dipukul lebih suka melawan, menginginkan kepuasan segera dari keinginan dan kebutuhan, mudah frustasi, kemarahan tiba-tiba, dan mencambuk psikologi orang lain.

Alasan untuk hal tersebut, ujar Singer, mungkin saja memukul lebih menimbulkan ketakutan daripada mencoba mengerti. Bahkan jika seorang anak menghentikan teriakan kemarahannya ketika dipukul, hal tersebut tidak berarti dia mengerti kesalahannya dan mengapa dia harus bersikap seharusnya. “Jadi apakah, model perilaku memukul sebagai solusi masalah?” tanyanya.

Untuk anak yang mengerti apa dan mengapa mereka melakukan kesalahan, butuh usaha berulang bagi sebagian orang tua, menggunakan hukuman ‘batas waktu’ – sebuah strategi yang secara khusus melibatkan bantahan anak terhadap perhatian, interaksi dengan orang tua dengan periode waktu spesifik. Waktu yang digunakan untuk berdiam diri tersebut memaksa anak untuk tenang dan belajar berpikir tentang emosi daripada beraksi membabi-buta.

Memukul bisa menghentikan perilaku menyimpang anak dalam jangka pendek, tetapi menjadi kurang efektif pada perulangan, menurut AAP. Pemukulan juga membuat proses disiplin lebih sulit seiring dengan pertumbuhan anak.

Sebagai studi terbaru, menginvestasikan waktu kepada anak lebih awal untuk mendidik bagaimana berbagai perilaku yang salah dapat diterjemahkan menjadi kewaspadaan diri dan kontrol yang lebih baik bagi anak dalam jangka panjang. [m

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: