Home > Uncategorized > Mimpi Kuatkan Proses Belajar

Mimpi Kuatkan Proses Belajar

MANUSIA telah lama mencari tahu mengapa kita bermimpi. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian kontroversial mengindikasikan bahwa kita mengolah memori dengan bermimpi. Sekarang, studi terbaru menyatakan bahwa mimpi berperan dalam proses belajar dengan cara mengolah apa yang baru saja kita alami.

Peneliti menemukan, orang-orang yang bermimpi mengenai video game terkait lorong-lorong menyesatkan (maze game) yang baru saja mereka mainkan akan bermain lebih baik di lain waktu dibandingkan mereka yang tidak bermimpi mengenai game tersebut.

“Ada bagian-bagian dari otak mereka yang sebenarnya memainkan kembali memori saat berjalan melalui lorong simpang siur tersebut, dan hal ini akan memperbaiki memori dan meningatkan performa,” tutur co-author studi Robert Stickgold, direktur Harvard Medical School’s Center for Sleep and Cognition.

Mimpi-mimpi telah membuat orang terpesona selama bertahun-tahun.”Beberapa ribu tahun lalu kita meyakini bahwa mimpi adalah pesan dari tuhan,” terang Stickgold. “Kemuidan Freud menyatakan bahwa mimpi-mimpi adalah pesan dari alam bawah sadar kita yang tidak baik.”

Kemudian, terang dia, peneliti setelahnya meyakini bahwa mimpi merupakan kilatan atau tembakan acak dari saraf-saraf dalam batang otak.”Sekarang kita mulai menyatakan bahwa mimpi berkaitan dengan memori kita.”

Dalam studi baru yang dipublikasikan di jurnal Current Biology, Kamis (22/4), ini, peneliti meminta 99 partisipan memainkan video game di mana mereka harus mencari jalan melalui lorong-lorong simpang siur dengan bantuan gambar tiga dimensi dari  lorong tersebut. Selanjutnya, partisipan diminta tetap terjaga selama dua jam atau tidur. Lima jam kemudian mereka kembali diminta memainkan game tersebut.

Empat partisipan melaporkan bermimpi mengenai lorong tersebut saat tidur. Keempat partsipan ini termasuk dari mereka yang mengalami peningkatan terbaik saat memainkan game tersebut untuk kedua kalinya. Performa mereka 10 kali lebih baik dibandingkan partisipan lain yang juga tidur.

Apakah pemimpi belajar saat mereka bermimpi? Belum jelas bagaimana mimpi berkaitan dengan pengalaman memainkan game tersebut, tapi Stickgold meyakini bahwa proses bermimpi menggambarkan tipe aktivitas otak yang menentukan arti dari proses pembelajaran, bukan mempelajari cara melakukan yang lebih baik.

Misteri lainnya: mengapa hanya sedikit partisipan yang bermimpi mengenai maze? Kurang dari 10 persen dari partisipan yang tidur. Di sisi lain, terang Stickgold, sekitar 86 persen partisipan yang memainkan Alpine racer skiing game bermimpi mengenai  permainan tersebut.

“Kemungkinan karena maze tidak cukup kaya dan tidak cukup menariki,” terang Stickgold.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: