Home > Uncategorized > Belahan Dada Versus Ulama Iran

Belahan Dada Versus Ulama Iran

Ulama Iran mengklaim gempa beruntun belakangan ini disebabkan oleh perilaku amoral kaum perempuan. Merasa dikambinghitamkan, sebagian perempuan menggelar aksi protes dengan memamerkan belahan dada di laman Facebook.

SITUS JEJARING sosial Facebook diguncang oleh kehebohan. Bukan oleh kasus penculikan anak perempuan maupun penipuan. Tapi, laman buatan Mark Zuckerberg ini ‘diguncang’ oleh ribuan perempuan yang dengan sukarela memamerkan belahan payudaranya di sana. Aksi ini terjadi pada Senin, 26 April 2010. Seperti dirilis situs Kompas (27/4), mereka mengumpulkan sebanyak-banyaknya foto payudara di sebuah grup diskusi. Membaca info ini, saya langsung mencari halaman terkait dan bergabung dalam grup ini di Facebook. Betul, aksi ini sudah mendapat dukungan 72 ribu penghuni Facebook saat itu.

Aksi eksibisi payudara ini merupakan bentuk protes terhadap ceramah ulama Iran, Kazem Sedighi, yang menyerukan agar kaum perempuan bertobat dengan memakai pakaian yang sopan. Mengingat, kata Kazem Sedighi, penampilan seronok merekalah yang menyebabkan terjadinya gempa besar selama ini. Bertobat, kata Kazem, adalah jalan keluar dari bencana itu. “”Banyak perempuan yang tidak berpakaian sopan dan menggiring kaum pemuda tersesat. Mereka merusak kesucian dan melahirkan perzinahan di masyarakat. Itu yang menyebabkan gempa bumi,” kata dia dalam shalat Jumat seperti dikutip media Iran.

Entah memakai logika dari mana Kazem Sedighi langsung mengkambinghitamkan perempuan sebagai penyebab gempa bumi. Ucapan berbau arogan dari imam yang notabene laki-laki ini langsung disambut protes dari kalangan perempuan. Salah satunya, aksi Boobquake yang dipelopori oleh Jennifer McCreight. Aktivis yang mengklaim diri sebagai feminis ateis itu mengundang para perempuan menyumbang foto belahan payudaranya. Tapi, tak dinyana, kebetulan sekali saat aksi sedang dilakukan, Taiwan diguncang gempa 6,5 skala Richter. Perdebatan pun makin seru.

Wacana mengaitkan moralitas dengan bencana alam bukanlah barang anyar. Pada saat gempa menerjang Padang, misalnya, seruan untuk memperbaiki moral sebagai obat pencegah bencana menguar. Tak hanya dari beberapa pemimpin agama. Tapi, juga dari wakil rakyat di senayan maupun dari barisan menteri. Bencana yang terjadi selama ini dikaitkan dengan kerusakan moral atau kemaksiatan.

Pencarian korelasi antara moralitas, bencana, dan bahkan dengan kemahabaikan Tuhan sudah menjadi pencarian dan perdebatan seru di kalangan pemikir sejak lama. Termasuk dalam memposisikan Tuhan dalam konteks penderitaan maupun kejahatan di dunia. Agar fokus, saya mempersempit pembahasan yang terkait dengan kesimpulan Kazem Sedighi tersebut. Terkait korelasi antara moralitas dan bencana, saya menjawab “ya” sekaligus “tidak.”

Saya sepakat bila moralitas punya pengaruh terhadap bencana bila hal itu menyangkut perilaku buruk manusia yang secara logis dan kelihatan menyebabkan kerusakan. Bencana banjir, misalnya, bisa dikaitkan dengan perilaku jahat cukong-cukong kayu yang doyan menebangi hutan sembarangan atau perilaku buruk orang yang doyan membuang sampah sembarangan. Termasuk bencana-bencana yang disebabkan oleh campur tangan manusia, seperti bocornya reaktor nuklir, pemanasan global maupun perubahan iklim yang juga dipicu oleh menyeruaknya pabrik-pabrik industri maupun keroposnya paru-paru dunia, tragedi lumpur meluap dan melenyapkan beberapa desa, tabrakan beruntun, resesi global, dan sebagainya. Sejauh itu bencana maupun risiko buatan—meminjam istilah Anthony Giddens dengan manufactured risk—saya sepakat kalau keduanya mempunyai korelasi kuat. Ada pola sebab akibat yang jelas.

Tetapi, bila bencana alam seperti gempa bumi (kecuali itu gempa buatan sebagai ujicoba senjata misalnya) diklaim disebabkan oleh bobroknya moral manusia, saya tidak sepakat. Namun juga, bila bencana alam seperti gempa dan gunung meletus, dimaknai sebagai bahan refleksi akan keterbatasan manusia di depan yang mahaagung, bagi saya itu sah-sah aja. Kalau itu diklaim lantaran kerusakan moral manusia, saya tidak sepakat. Termasuk ketika gempa bumi diklaim disebabkan oleh tindakan amoral perempuan seperti yang dilontarkan ulama asal Iran tadi. Ini jelas sebuah pernyataan yang mengada-ada. Selain sangat tidak berdasar, tidak masuk akal, klaim itu sangat diskriminatif gender. Pernyataan yang patriakhis kental ini sarat manipulasi dan kemunafikan. Kesimpulan sang ulama tidak mempunyai premis yang jelas.

Selain itu, pernyataan sang ulama sangat semena-mena. Bagaimana mungkin, kaum perempuan yang pasti juga menjadi korban dari bencana alam tersebut masih dipersalahkan sebagai penyebab gempa. Sungguh malang nasib perempuan. Sudah terpinggirkan oleh sistem politik, hukum, dan sosial, masih dipersalahkan sebagai penyebab bencana alam. Selain tak masuk akal, pernyataan ini menjadi buah kepongahan dari rezim laki-laki yang doyan main kambing hitam dan cermin dari pemikiran yang jauh dari akal sehat.

Bukti lain kesombongan rezim laki-laki ada di dalam ungkapan sang ulama di mana perempuan diklaim sebagai penyesat kaum laki-laki, perusak kesucian, dan yang melahirkan perzinahan. Sungguh pernyataan yang tidak adil. Bagaimana mungkin sebuah perzinahan yang dilakukan laki-laki dan perempuan yang dipersalahkan hanya pihak perempuannya. Perempuan sering dituding sebagai penggoda. Padahal, laki-laki sendiri yang tidak bisa mengendalikan nafsunya. Belum lagi dalam kasus perkosaan. Yang jelas-jelas menjadi korban adalah perempuan, tapi perempuan masih terus saja dikorbankan entah dicap sebagai perempuan murahan, dicap sebagai penggoda, perempuan kotor, dikucilkan dari pergaulan sosial, dan sebagainya. Dari sini, bisa dilihat bahwa pada zaman semaju ini (baca: zaman digital sekalipun), budaya dan mentalitas patriakhi itu masih kental. Anehnya, paradigma patriakhi ini tidak hanya dimiliki oleh sebagian laki-laki, tapi juga dari kalangan perempuan sendiri. Lebih parah lagi, bila kondisi ini dipolitisir demi kepentingan politik kelompok tertentu.

Sementara aksi Boobquake dengan mengunggah foto-foto belahan dada saya lihat sebagai aksi penggugatan atau pemberontakan terhadap cara pandang sempit di atas. Mungkin, foto belahan dada itu bisa dimaknai sebagai simbol perlawanan atas rezim patriakhi tersebut. Ternyata, perjuangan keadilan gender masih terus berlangsung hingga kini. Zaman semakin modern tidak menjadi jaminan bahwa paradigma kita semakin terbebas dari paradigma lama yang menindas. Bahkan, di sisi lain, modernitas malah memicu resistensi dalam diri kita untuk membekap lebih erat tradisi lama.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: