Home > Uncategorized > Indonesia Dibohongi Produsen BlackBerry?

Indonesia Dibohongi Produsen BlackBerry?

RIM dinilai telah membohongi pemerintah dan pengguna BlackBerry di Indonesia. Peredaran BlackBerry di RI juga terancam distop oleh pemerintah.

Kementerian Komunikasi dan Informatika mengatakan pernah ada kesepakatan dengan pihak RIM pada 16 Juni 2009 terkait pelayanan purna jual dari RIM. Namun kini ada keluhan dari Indonesian Telecommunication Users Group (IDTUG) masih ada BlackBerry yang harus diperbaiki di Singapura.

“Kami ingin mengevaluasi keluhan-keluhan yang ada, apakah benar atau tidak. Makanya kami melayangkan peringatan awal,� ujar Kepala Humas Kemenkominfo Gatot S Dewa Broto di Jakarta, kemarin.

Gatot mengatakan Kemenkominfo akan mengawasi apakah RIM benar-benar melakukan pengiriman barang layanan purna jual ke Singapura. Jika benar, kementrian akan mengirimkan pernyataan tertulis kepada RIM sebagai peringatan pertama.

’Surat cinta’ itu menurut Gatot belum diluncurkan Kemenkominfo ke RIM, karena masih melihat keseriusannya berbisnis di Indonesia. “Sifat kami netral jika RIM sudah mengoptimalkan service center di Sunter layaknya di Singapura,� kata Gatot.

Gatot mengakui dalam Permen No 29 Tahun 2008 tentang sertifikasi alat dan perangkat telekomunikasi memang tidak diwajibkan jumlah minimal service center untuk sebuah produk telekomunikasi yang diperjualbelikan di Indonesia. Namun RIM berjanji untuk tahap pertama akan membuka 6 buah service center.

“Kami terus akan memantau RIM ke depan, kemungkinan terburuk adalah kami melarang penjualan produk BlackBerry di Indonesia sampai semua ketentuan pemerintah ditaati. Bukan masalah pantas atau tidak pantas standar internasional bagi service center RIM di Indonesia, kualitas pelayanan Sunter harus sepadan dengan Singapura atau Kanada sekalipun,� tandas Gatot.

Sekjen IDTUG Muhammad Jumadi mengatakan RIM telah membohongi pemerintah dan pengguna BlackBerry di Indonesia. Jumadi menyatakan beberapa pengguna mengadu kepada IDTUG bahwa ponsel BlackBerry miliknya yang rusak harus dikirim ke luar negeri untuk diperbaiki dan hal tersebut membutuhkan waktu hingga 5 bulan lamanya.

“Bayangkan saja bagaimana sulitnya hal tersebut. RIM beralasan akan membuat service-center berstandar internasional seperti di Singapura, tetapi mengapa tidak bermutu?� tanya Jumadi.

“Kalau memang ingin berbisnis di Indonesia maka sudah seharusnya membuka kantor di Indonesia. Jangan hanya mengambil uangnya saja, tolong itikad baik ditunjukkan, berkacalah pada Nokia, Samsung dan yang lain,� imbuh Jumadi.

IDTUG menggugat keseriusan RIM untuk berbisnis di Indonesia. Ia berharap RIM tidak hanya mengandalkan service center milik pebisnis lokal saja. “Mana peran RIM?. Tunjukkan keseriusan berbisnis di Indonesia, sebagai bangsa Indonesia jangan mau dibohongi terus,� ujar Jumadi.

Sementara setelah service center beroperasi, model bisnis dari operator sebagai pihak perantara RIM dengan konsumen di pasar tidak berubah. Jika ada kerusakan handset BlackBerry, operator menjadi first-peer sebagai pengumpul, baru kemudian dialihkan ke RIM Indonesia dengan diwakili Teleplan.

“Jadi sebenarnya operator hanya perantara karena Teleplan tersebut yang menentukan bisa diperbaiki di dalam negeri atau luar negeri bergantung tingkat dan jenis kerusakan,� ujar Group Head Brand Marketing Indosat Teguh Prasetya.

Teguh juga menerangkan bahwa skema bisnis RIM memang tidak pernah langsung ke konsumen, operator justru bersyukur sudah ada Teleplan. “Skema layanan purna jual RIM sulit berubah, PT Teletama Artha Mandiri juga sekadar menjual. Jika ada kerusakan akan diserahkan ke Teleplan. Menurut kita justru lebih baik dengan adanya Teleplan dibandingkan zaman dulu mengirim ke luar negeri menghabiskan waktu dan biaya.�

Menurut pengalaman Indosat masa perbaikan BlackBerry yang rusak maksimal dua minggu dan jika ada stok penggantian maka akan ada replacement sementara bagi pengguna, sehingga konsumen tidak merasa terganggu.

Teguh mengatakan produk BlackBerry yang dijual Indosat hanya kurang dari 5% yang mengalami gangguan dan re-ekspor ke negara asal. “Akan lebih sulit jika ada larangan produk BlackBerry yang rusak dikirim ke Singapura atau Kanada, apalagi Teleplan belum jalan setahun di Indonesia.�

Operator berharap RIM bisa serius berbisnis di Indonesia dengan layanan real-time. “Operator sudah berkali-kali menuntut agar RIM bisa mendukung konsumen secara real-time termasuk lokasi fisik di Indonesia jika memang dengan kantor resmi menjadi lebih baik. Atau minimal kemampuan dan fasilitas Teleplan ditingkatkan jika permintaan dan perkembangan BlackBerry semakin tinggi di Indonesia,� imbuh Teguh.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: