Home > Uncategorized > Teknologi Bisa Pastikan Video Ariel 90% Asli

Teknologi Bisa Pastikan Video Ariel 90% Asli

qAriel, Luna Maya dan Cut Tari tampaknya akan sulit berkelit dari jerat hukum. Teknologi face recognition bisa mendeteksi keaslian video hingga 90%. Hasilnya bisa jadi bukti di pengadilan.

Sebelumnya pengamat multimedia dan anggota DPR RI Roy Suryo telah melakukan analisis dan menyatakan bahwa video tersebut adalah asli dalam arti bukan rekayasa. Namun, Roy Suryo tidak bisa menentukan apakah pelaku tersebut benar Luna Maya, Ariel dan Cut Tari.

Menurut politisi dan pemegang gelar doktor dari Imperial College of Science, Technology and Medicine London Poempida Hidayatulloh untuk menentukan setiap suara dan bentuk tubuh seseorang memiliki karakteristik yang berbeda dalam konteks manapun, sehingga mudah dibedakan satu dengan yang lain.

“Sebenarnya penentuan apakah pelaku tersebut benar-benar Luna Maya, Ariel dan Cut Tari sangat gampang. Dengan teknologi voice print dan face recognition maka ketiga artis ini dapat diketahui apa benar pelaku atau bukan,” ujar Poempida saat dihubungi via telepon, saat sedang menunaikan Ibadah Umroh, Selasa (22/6) .

Wakil presiden organisasi Kabinet Indonesia Muda (KIM) itu menyatakan bahwa teknologi pengenalan wajah memiliki akurasi sangat tinggi. “Dengan perkembangan teknologi saat ini, akurasinya sangat tinggi hingga di atas 90% dan ini sudah sangat baik.”

Poempida menyebut perangkat lunak untuk melakukan pengecekan keaslian foto mudah ditemukan. Bahkan jika dicari di internet, jumlah software jenis ini hingga 380 ribu macam.

Untuk menentukan pelaku, para polisi dapat mengambil sampel dari video dengan meng-capture. Selanjutnya, mengambil foto asli dari para artis dan membandingkan tanda-tanda mutlak pada gambar tersebut.

“Kita bisa lihat dari jarak antarmata, panjang hidung, mulut serta bentuk muka itu sendiri ataupun tanda mutlak pada diri artis. Kalau signature-nya sama berarti memang mereka pelaku dalam video tesebut,” tambah Poempida lagi.

Tidak hanya itu, voice print seperti yang dilakukan polisi juga dapat dijadikan pembuktian. Artis diminta melakukan perekaman suara dan selanjutnya dibandingkan dengan suara dalam video tersebut. “Ini juga termasuk teknologi yang mudah dilakukan. Sama saja dengan voice command di telepon. Alat itu juga untuk mendeteksi suara kan?” jelasnya.

Poempida menjelaskan gelombang suara setiap orang berbeda-beda. Suara dapat dibandingkan dengan deteksi gelombang. “Gelombang suara merupakan signature yang dipastikan berbeda antara orang satu dengan yang lain,” ujarnya.

Poempida menyayangkan lamanya waktu yang dibutuhkan polisi untuk mendeteksi siapa pelaku dalam video tersebut. “Pendapat saya, jika ada sesuatu yang sebenarnya cukup mudah dilakukan tapi berlarut-larut, kemungkinan saja ada kepentingan yang dilindungi. Ini kecurigaan saya saja. Tapi, seharusnya polisi bertindak tegas dengan segera melakukan pendeteksian pelaku,” imbuhnya.

Menanggapi hal ini, Farhat Abbas pengacara LSM Hajar yang melaporkan video mesum ke polisi itu saat dihubungi terpisah menegaskan, hasil dari voice print dan face recognition dapat digunakan sebagai bukti tambahan di kasus itu. “Tentu saja dapat digunakan. Ini telah tercantum dalam UU ITE,” katanya.

Menurut Farhat Abbas, bukti yang memberatkan tidak hanya dari pengakuan para artis yang tersangkut masalah. Tetapi juga bukti fisik lain seperti perbandingan gambar pelaku di video dengan karakteristik individu yang nyata.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: