Home > Uncategorized > Kisah Para Pecinta Rasulullah SAW

Kisah Para Pecinta Rasulullah SAW

Angin kota Madinah yang menyebarkan hawa dingin tetapi kering
dan garang terasa menusuk hingga ke tulang. Matahari sejengkal demi sejeng kal
makin meninggi. Sementara dengan segala perang perasaan, malakul maut mulai mencabut
nyawa Nabi
SAW dari kepala.

Nabi SAW merasakan
sakit tatkala nyawa beliau sampai ke pusat. Dahi dan sekujur wajahnya yang mulia bersimbah peluh. Urat-uratnya
menegang dari detik ke detik.

Sambil
menggigit bibir, Nabi SAW berpaling
kepada Malaikat Jibril. Mata nya basah. Kepada Jibril beliau berkata, “Ya
Jibril, betapa sakit. Alangkah dah syat derita sakaratul maut ini….”

Jibril
cepat membuang mukanya. Hatinya bergolak melihat peristiwa itu.

“Ya
Jibril, mengapa engkau berpa ling? Apa engkau benci melihat muka ku?”
tanya Nabi
SAW dengan cemas.

`Tidak,
ya Rasulullah,” sahut petugas pembawa wahyu tersebut.

Dipegangnya
tangan Nabi yang mu lia itu,
lalu ia berkata, “Siapakah yang tega hatinya menyaksikan kekasih Allah dalam keadaan semacam ini? Siapakahyang sampai hati melihat engkau dalam
kesakitan?”

Agaknya
rasa sakit itu kian memun cak. Sekujur badan Nabi SAW menggi gil. Wajahnya memutih dan urat-uratnya tambah menegang. Dalam penanggung annya
yang amat sangat, Nabi SAW berkata, “Ya Rabbi, alangkah sakitnya. Ya Tuhanku,
timpakanlah kesakitan sa karatul maut ini hanya kepadaku, dan ja ngan kepada umatku.”

Jibril
tersentak. Begitu agungnya pri badi sang Terpilih. Dalam detik-detiknya yang paling gawat dan menyiksa, bukan kepentingan dirinya yang diminta. Me lainkan kepentingan
umatnya yang di dahulukan.
Andai kata Nabi Muhammad SAW menuntut
agar kesakitan itu di cabut, pastilah Allah SWT akan menga bulkan permintaannya.
Namun beliau le bih memilih permohonan agar derita itu tidak menimpa umatnya. Makhluk mana yang memiliki ketinggian budi seperti
Baginda Nabi SAW?

Masih
jelas dalam benak kita kisah tentang malaikat penjaga gunung yang meminta izin kepada Nabi SAW untuk menghancurkan penduduk Thaif.
Akan dibelah bumi, diguncangkan gempa, su paya mereka terbenam semua, sebagai
balasan bagi tindak aniaya mereka ke pada Nabi SAW. Namun, dengan kesa baran yang luar biasa, Rasulullah SAWbersabda, “Jangan sekeras itu,
wahai malaikat Allah. Siapa
tahu, jika mereka belum mau beriman, anak-anaknya akan beriman? Dan jika anak-anaknya belum mau juga,
kuharapkan cucu-cucu me reka akan menerima Islam sebagai aga manya.”

Sementara
itu Malaikat Maut telah merenggut nyawa Baginda SAW sampai ke dada. Napasnya sudah mulai sesak. Tiba-tiba Nabi SAW dengan suara menggigil dan pandangan meredup menengok ke arah
sahabat-sahabatnya dan berkata,
“Ushikum bisshalati wa ma malakat
aimanukum
(Aku
wasiatkan kepada kalian shalat dan orang-orang yang menjadi tanggunganmu. Pelihara lah mereka baik-baik).”

Keadaan pun bertambah gawat. Se mua sahabat yang hadir menundukkan kepala, saking
tidak kuat menahan ke sedihan. Badan Baginda SAW berubah menjadi dingin. Hampir seluruhnya tidak
bergerak-gerak lagi. Matanya yang ber kaca-kaca
hanya membuka sedikit. Mata itu menatap ke langit-langit.

Pada saat
menjelang akhir napas be liau, Ali bin Abi Thalib melihat Nabi SAW menggerakkan bibimya yang sudah mem biru dua kali. Cepat-cepat ia mendekat kan
telinganya ke bibir Nabi SAW. la mendengar Nabi memanggil-manggil,
“Umatku… umatku…”

Setelah
memanggil-manggil inilah Nabi SAW wafat
pada Senin bulan Rabi’ul Awwal. Maka meledaklah tangis berkabung ke segenap
penjuru. Seorang juru selamat telah mangkat. Cintanya kepada umat dibawanya
hingga akhir hayat, dan akan
dibawanya sampai ke padang mahsyar.

Lantas,
bagaimana dengan kita, umatnya, yang justru sangat dicintainya? Berkat perjuangan beliau yang tiada lelah, kita dapat mereguk
nikmat iman dan Islam. Tegakah
kita mengabaikan cintanya?

Pernah
suatu ketika dalam suatu ri wayat beliau bersabda, “Sungguh aku merindukan
mereka.”

Para sahabat terperanjat. Mereka cemburu,
karena Rasulullah merindukan orang lain ketimbang mereka.

“Siapa
gerangan yang engkau rindu kan,
ya Rasulullah? Apakah kami?” tanya mereka penasaran.

“Bukan.
Kalian adalah sahabatku, kalian berjuang bersamaku. Tentunya aku mencintai
kalian.”

“Apakah para malaikat Allah?”

“Bukan…,” jawab Baginda.

“Lalu
siapa, ya Rasulullah?”

“Mereka
adalah umatku nanti. Mere ka tidak pernah bertemu aku, tapi mere ka mengikuti
sunnah-sunnahku dengan penuh keimanan. Hati mereka dipenuhi kecintaan
kepadaku.”

Siapakah yang dimaksud Rasulullah SAW? Tiada lain adalah umatnya yang hidup berabad-abad setelah Rasulullah wafat. Di antaranya
kita. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita mencintai beliau dengan benar?
Kepada siapa kita belajar mencintai beliau?

Umar bin Khaththab

Contoh
terbaik adalah para sahabat Rasulullah SAW. Mereka hidup pada masa Rasulullah dan menjadikan sirah beliau sebagai
rambu-rambu serta pelita yang menerangi
jalan di depan mereka. Menyadari pentingnya meneladani Nabi Muhammad SAW, mereka pun meng ikutinya dalam segala masalah, besar ataupun
kecil. Mereka menimba, menik mati, dan berlindung di bawah ketela danan beliau.

Kecintaan
mereka kepada Rasul ullah SAW melebihi
kecintaan mereka kepada harta, istri, anak-anak, bahkan diri mereka sendiri.

Suatu
hari, di pagi hari, Umar bin Khaththab
bertemu Rasulullah SAW. Rasulullah
menyapa sahabatnya itu de ngan sumringah, “Bagaimana keada anmu pagi ini,
wahai sahabatku, Umar?”

“Alhamdulillah,
ya Rasulullah, pagi ini aku dalam keadaan beriman.”

Rasulullah
SAW bertanya lagi, “Siapa yang engkau lebih cintai, anak -anakmu
atau aku?”

Umar
menjawab, “Tentu saja anak anakku, ya Rasulullah. Mereka adalah permata
hatiku. Darah dagingku. Bagai mana aku tidak lebih mencintai mereka daripada
dirimu?”

“Kalau
begitu, engkau belum ber iman dengan sepenuh hatimu.”

Keesokan
harinya, Sayyidina Umar bertemu kembali dengan Baginda Nabi, dan beliau
bertanya lagi, “Bagaimana pagi ini, wahai sahabatku?”

“Pagi
ini aku dalam keadaan beriman, ya Rasulullah.”

“Lalu,
mana yang
lebih engkau cintai,
dirimu sendiri atau aku?” tanya Rasul ullah SAW.

“Ya
Rasulullah, sungguh, engkau le bih aku cintai daripada hartaku dan ke luargaku,
kecuali diriku.”

“Wahai
Umar, demi Dzat yang diriku
berada dalam genggaman-Nya, engkau belum beriman sepenuhnya sampai aku le bih
engkau cintai daripada dirimu sendiri.”

Hingga,
suatu hari, Umar tergopoh gopoh menjelang Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah… saat ini aku
mencintai diri mu lebih dari segala-gelanya. Aku men cintaimu melebihi
kecintaanku kepada diriku sendiri,” kata Umar sambil me nangis haru.

Rasulullah
SAW pun memeluk saha batnya yang tercinta itu sambil berkata,
“Sekarang, wahai Umar, sekarang…,” kata Rasulullah, yang maksudnya, saat itu keimanan
Sayyidina Umar telah men capai kesempurnaan.

Abu Bakar
Shiddiq

Begitulah
kecintaan sahabat kepada Rasulullah SAW, yang mencerminkan ke kukuhan iman dalam dada mereka. Se perti juga halnya Abu Bakar Shiddiq. Sa habat karib
Rasulullah ini membuktikan rasa cintanya di saat-saat Rasulullah menghadapi
masa-masa sulit. Yaitu ketika Rasulullah SAW menyiapkan diri untuk hijrah ke Yatsrib atau Madinah.

“Aku
menemanimu, aku menemani mu, wahai Rasulullah!” kata Abu Bakar.

Begitu
pula di saat mereka sedang dikejar-kejar para pemuda Quraisy yang hendak membunuh mereka. Mereka
bersembunyi di Gua Tsur.

Di saat
Rasulullah SAW sedang ke letihan,
Abu Bakar menyediakan pang kuannya untuk
Rasulullah SAW berba ring. Saat
itulah kakinya disengat ular berbisa. Karena kecintaannya yang sa ngat dalam, ia tidak berani
mengeluh ataupun mengaduh, karena khawatir orang yang paling dikasihinya akan ter bangun.

Ketika
para pemuda Quraisy itu sam pai di mulut gua, Abu Bakar kelihatan sangat ketakutan. Maka Nabi pun mene­nangkannya, karena saat itulah ma’iya tullah (pertolongan Allah) menyertai me reka. “Jangan
engkau bersedih, sesung guhnya Allah bersama
kita.” – At-Taw bah (9): 40. Lalu Rasulullah SAW ber kata, “Hai Abu Bakar, bagaimana pen dapatmu mengenai
dua orang yang di sertai Allah sebagai Yang ketiga?”

Itulah
cinta sejati, perasaan yang be nar,
dan iman yang dalam, sehingga Abu Bakar selalu dikenal dengan ucapannya yang abadi, “Jika beliau yangmengata kannya, berarti benar.”

la membenarkan
Rasulullah SAW dalam segala
sesuatu dan setuju de ngan
beliau dalam segala hal. la keluar kan harta dalam kecintaannya
kepada Allah
dan kepada Rasulullah SAW, se hingga memakai pakaian yang sangat sederhana.

Khadijah RA

Begitu
pula Ummul Mu’minin Khadijah RA, yang mulia, wanita agung yang sa ngat mencintai Rasulullah SAW. Beliau lah insan yang selalu membantu Rasul ullah SAW, senantiasa memacu sema ngatnya untuk
tetap berdakwah. Menye limuti, mengasihi, dan mendukungnya, karena dorongan cinta yang mendalam kepada insan ini, insan yang terpercaya dan jujur. la menuturkan
perkataannya yang terkenal,
“Bergembiralah, wahai anak pamanku! Teguh hatilah engkau. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya,
aku sungguh berharap eng kau menjadi nabi dari umat ini. Demi Allah, ia tak akan menghinakanmu selamanya. Sungguh engkau adalah se orang
yang selalu menyambung sila turahim,
berbicara benar, menyantuni orang lemah, menjamu tamu, dan meno long untuk hal-hal yang benar.”

Rasulullah
SAW pun sangat setia kepadanya. Lihatlah
bagaimana beliau membela Khadijah RA ketika Ummul Mu’minin Aisyah,
yang cemburu karena beliau sering menyebut
Khadijah RA, berkata kepada
beliau, “la tak lebih
ha nya seorang wanita tua. Allah telah
menggantikan untukmu yang lebih
baik daripadanya.”

Berkatalah
Rasulullah SAW karena setianya
kepada wanita terhormat ini, serta karena mengagungkan dan memu liakannya, “Demi Allah, Allah tidak meng­gantikan untukku yang lebih baik dari  padanya. la beriman kepadaku ketika masyarakat
tak satu pun yang percaya kepadaku. la membenarkanku ketika orang-orang mendustaiku. la memban tuku ketika orang-orang
membiarkanku.”

Khadijah RA sangat mencintai be liau, sehingga Allah pun mencintainya dan memuliakannya.

Abu Thalhah

Diriwayatkan,
Anas bin
Malik RA ber kata, “Ketika terjadi Perang
Uhud, orang orang tercerai-berai dari Nabi SAW se dangkan Abu Thalhah
tetap berada di hadapan beliau. la melindungi beliau dengan
tamengnya.”

Abu Thalhah
adalah seorang pema nah yang sangat
mahir. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi SAW mengintai pasukan musuh, maka ber kata
Abu Thalhah, “Kupertaruhkan ayah dan ibuku demi engkau! Janganlah eng kau
mengintai. Aku khawatir panah me reka akan mengenaimu. Biar diriku me lindungimu.”

Wanita
Anshar

Ada pula seorang wanita Anshar yang ayahnya, saudara laki-laki, serta
suaminya gugur, saat Perang Uhud ber sama Rasulullah SAW. Ketika orang orang memberitahukan
kematian mere ka kepada wanita tersebut, ternyata ke selamatan Rasulullah-lah yang lebih me nyita pikirannya ketimbang
segala yang
lain. Sedikit pun ia tidak berpikir tentang musibah yang menimpanya dengan ke hilangan anggota
keluarganya. Karena itu, ia berteriak, “Di mana Rasulullah?”

Mereka
menjelaskan kepadanya, “Alhamdulillah, beliau dalam keadaan baik
sebagaimana yang kau
inginkan.”

Seketika itu wanita tersebut merasa tenang, meskipun musibah yang menim panya sangat besar. la lalu berkata, “Perlihatkanlah
beliau kepadaku agar aku
dapat melihatnya.”

Saat ia
telah melihat beliau, ia pun mengucapkan
kalimatnya yang terkenal bak
cahaya, bersinar sepanjang sejarah, menjadi saksi keimanan wanita Anshar ini,
“Segala musibah setelahmu adalah kecil, wahai Rasulullah!”

Alangkah
luar biasanya gambaran keimanan wanita Anshar ini, yang telah memberikan pelajaran yang sangat mendalam mengenai kecintaan
kepada Rasulullah SAW.

Mush’ab bin Umair

Begitu
pula Mush’ab bin Umair, pe muda kota Makkah yang dimanjakan ke luarganya, yang gugur syahid pada Pe rang Uhud ketika
ia melindungi Rasul ullah SAW dan membelanya
dari se rangan orang-orang kafir.

Dikisahkan,
Mush’ab bin Umair ber tempur
membela Nabi SAW sampai wa fat
terbunuh. Orang yang membunuh
adalah Bin
Qum’ah Al-Laitsi yang me nyangka bahwa ia adalah Rasulullah
SAW. Maka Bin Qum’ah Al-Laitsi kem bali kepada kaum Quraisy seraya ber kata, “Aku telah
membunuh Muham mad.”

Selanjutnya,
setelah Mush’ab bin Umair
terbunuh, Rasulullah SAW mem berikan
bendera (panji-panji perang) ke pada Ali bin Abu Thalib.

Di masa
hidupnya, cinta Mush’ab bin Umair
kepada Rasulullah SAW telah
me menuhi seluruh rongga dadanya.

Suatu
ketika Mush’ab keluar men jumpai beberapa saudaranya seagama yang sedang duduk mengelilingi Rasul ullah
SAW. Ketika para sahabat melihat nya,
mereka pun
menundukkan kepala,
memejamkan mata, dan air mata
mene tes dari mata mereka. Mereka melihat nya mengenakan pakaian yang penuh tambalan dan usang, sedangkan sebe lumnya ia selalu
memakai pakaian yang baru
dan cemerlang. Karena ibunya, se telah
putus asa untuk membuatnya mur tad, mencegahnya dari semua kese nangan yang pernah ia limpahkan ke pada Mush’ab
setelah ia meninggalkan tuhannya.

Saat itu
Nabi SAW
melihatnya de ngan pandangan
kasih dan
senyuman yang penuh
kerelaan, seraya bersabda, “Aku telah melihat Mush’ab sebelum ini. Tak
ada, di kota Makkah seorang pemu da pun yang lebih meraih kesenangan dari kedua
orangtuanya dibandingkan dia. Lalu ia tinggalkan semua itu karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Cin tanya kepada Allah dan Rasul-Nya telah mengubahnya menjadi
seperti yang kali an lihat,
bahwa ia meninggalkan seluruh perhiasan dunia dan sangat bergantung pada akhirat dan
kenikmatannya.” (HR At-Turmudzi
dan
AI-Hakim).

Zaid bin Ad-Datsanah

Ada pula kisah Zaid bin Ad-Datsanah RA ketika
kaum musyrikin menariknya keluar dari tanah haram untuk dibunuh. Abu Sufyan, sebelum masuk Islam, ber diri memperhatikan salah seorang
saha bat Rasulullah yang sedang
digiring un tuk dibunuh itu. la berkata, “Bersumpah lah demi Allah, wahai Zaid! Apakah eng kau suka jika
Muhammad berada di sini menggantikanmu untuk dipenggal leher nya, sedangkan
engkau berada di te ngah keluargamu?”

Zaid, muslim yang kuat
ini, menja wab, “Demi Allah, aku
tidak suka jika Muhammad berada di sini, atau apabila ia terkena sepucuk duri
saja yang
me nyakitinya, sedangkan
aku duduk di te ngah keluargaku. Demi Allah, aku tidak rela.”

Abu Sufyan
terheran-heran dengan lelaki yang lebih
memilih dibunuh dari pada Rasulullah SAW terkena sepucuk duri yang menyakitinya itu. la lalu ber kata, “Aku belum pernah
melihat se orang manusia yang lebih
dicintai para sahabatnya sebagaimana Muhammad dicintai
sahabat-sahabatnya.”

Abdullah bin Umar

Demikian
juga setelah Rasulullah SAW wafat.
Ketika Bilal RA datang dari
negeri Syam ke kota Madinah setelah Nabi SAW wafat, orang-orang memintanya un tuk mengumandangkan
adzan bagi me reka sebagaimana yang dilakukannya
ketika Rasulullah SAW masih
hidup.

Penduduk kota Madinah, laki-laki maupun perempuan,
anak kecil maupun dewasa, berkumpul untuk mendengar kan adzannya.

Ketika
Bilal mengucapkan Allahu Akbar, Allahu
Akbar,
semuanya berte riak dan menangis.
Sewaktu ia meng ucapkan Asyhadu anlailahaillallah,
me reka mulai gaduh. Saat ia melafadzkan Asyhadu anna Muhammadar Rasul ullah, tidak ada seorang pun di Madinah yang tak menangis dan tak berteriak. Para gadis keluar dari kamar-kamar me reka
dengan menangis.

Hari itu
menjadi seperti hari wafatnya Rasulullah SAW. Semuanya karena me reka teringat dengan masa Nabi SAW yangcemerlang dan bercahaya.

Demikian
pula dengan Abdullah bin Umar.
Ketika nama Rasulullah SAW di
sebut, ia selalu meneteskan air mata.
Dan tidaklah ia melewati rumah Rasul ullah
SAW melainkan ia pejamkan kedua matanya.
Sebagaimana yang disebut kan
oleh Al-Baihaqi
dalam kitab az-Zu hud dengan sanad shahih, saking
cinta nya kepada Rasulullah SAW, ia
selalu mengikuti atsar-atsar(kebiasaan) Rasul ullah SAW.

Di setiap
masjid, di mana Nabi per nah melakukan shalat di situ, ia pun sha lat
di situ.
Saat berhaji, ketika
wuquf di
Arafah, ia selalu wuquf di tempat Rasul ullah
wuquf. Bahkan ia juga selalu me meriksa untanya di setiap jalan yang di lihatnya Rasulullah SAW pernah meme riksa untanya di situ.

Ikrimah bin Abu Jahl

Begitu pula Ikrimah bin Abu Jahl RA, yang selalu
setuju dengan Rasulullah SAW dan senantiasa
teguh hatinya. la gugur pada Perang Yarmuk. Sebelum
mengembuskan napas terakhirnya, ia meletakkan kepalanya di atas paha Khalid bin Al-Walid, seraya berkata de­ngan air mata yang mengalir dari kedua matanya, “Wahai paman, apakah
ke matian ini membuat Rasulullah ridha ke padaku?” Pada saat kritis
seperti itu pun ia teringat
Rasulullah SAW, dan keingin annya
hanyalah agar Rasulullah SAW ridha kepadanya.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: