Home > Uncategorized > ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) DAN PERILAKU UMAT DEWASA INI

ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) DAN PERILAKU UMAT DEWASA INI

Apabila
umat Islam sudah memahami bahwa inti dari aswaja adalah ittiba’
(mengikuti) Rasulullah SAW, maka tentunya setiap individu muslim bisa
mengukur dirinya apakah sudah tepat bila ia mengaku dan menggolongkan
dirinya sebagai penganut aswaja. Ataukah prilakunya telah menyimpang
dari ajaran murni yang dibawa Nabi Muhammad SAW hingga keluar dari
lingkup aswaja. Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya, sebagaimana
yang diriwayatkan Ummul Mukmini ‘Aisyah ra. berkata: Rasulullah SAW
bersabda: “ Barang siapa menciptakan didalam agama kami apa yang bukan
termasuk agama kami, maka hal itu ditolak” ( HR. Bukhari dan Muslim).
“Berhati-hatilah
kalian terhadap amal-amal ciptaan baru, karena sesungguhnya sebagian
bid’ah (ciptaan baru) itu sesat” (HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi, hadits
hasan shahih)

* Sebagai keterangan ringkas, Kullu Kulliyah
diartikan “seluruh” sedangkan Kullu Kulli diartikan “sebagian” (harap
merujuk kepada ilmu Manteq, dan bukan dalam forum ini pembahasannya)

Jika
kita merujuk kepada dua hadits di atas, maka kita akan mendapati betapa
banyak amalan kaum muslimin saat ini yang ditolak oleh Islam, sebab
mereka telah masuk pada wilayah bid’ah, seperti adanya sekolah dengan
label Islam bahkan label aswaja, yang mencampuradukkan siswa dan siswi
dalam satu kelas tanpa ada sekat/tabir. Pencampuran lelaki dan
perempuan dalam satu tempat inilah di antara bid’ah yang berkembang di
tengah masyarakat.

Pengertian bid’ah tidaklah mutlak harus
menuju ke arah dhalalah (sesat), sebab umat Islam juga harus mengacu
kepada sabda Rasulullah SAW :
“Hendaklah kalian berpeganf teguh
terhadap sunnahku dan sunnah al-Khulafair Rasyidin yang mendapat
petunjuk (HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi, hadits hasan shahih)

Suatu
saat, terjadi perbedaan cara melaksanakan tarawih di kalangan para
shahabat, maka atas ijtihad dari sayyidina Umar bin Khattab ra, rakaat
shalat tarawih ditetapkan sebanyak 20 rakaat dengan berjamaah di
masjid. Kemudian sayyidina Umar bin Khattab berkomentar:
“Sebaik-baik bid’ah adalah (shalat tarawih denagan cara) ini” (HR. al-Bukhari)

Bermula dari dua riwayat di atas, para ulama membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah dlalalah.

Bid’ah
hasanah adalah amalan yang baru di dalam Islam, namun jika ditilik
secara detail, maka setiap bagan dari amalan tersebut masih berada
dalam lingkup makna yang tersirat di dalam ayat Alquran atau Hadits.
Beberapa contoh bid’ah hasanah yang berkembang di tengah masyarakat adalah:
1.Penghormatan
terhadap kelahiran Rasulullah dengan membaca maulid Diba’ dengan
dilagukan. Amalan ini berasal dari perintah Alquran maupun Hadits
tentang pentingnya bershalawat kepada Nabi SAW. Karena itu isi maulid
Diba’ adalah bacaan shalawat kepada Nabi SAW, sedang beliau SAW juga
merayakan hari kelahirannya dengan cara berpuasa pada setiap hari Senin.
2.Mengadakan tasyakkur haji dengan mengundang tetangga dan memberi mereka makan.
3.Penyambutan jamaah haji dengan diarak shalawat terbang, serta memberi makan para tamu yang ziarah haji.
4.Membaca
puji-pujian kepada Rasulullah SAW dengan lagu-lagu yang dibaca sebelum
shalat jamaah dimulai, atau qasidah-qasidah yang dibaca secara koor /
bersama-sama yang semuanya berisi shalawat kepada Nabi SAW

Bid’ah
dhalalah adalah amalan baru di dalam Islam, yang tidak ada landasan
sedikitpun dari Alquran maupun Hadits, bahkan cenderung melanggar
syariat Islam.

Bid’ah dlalalah yang tengah berkembang di
masyarakat sangatlah banyak. Adakalanya dianggap ringan sebab tidak
sampai menjurus kepada kekufuran atau kemurtadan, yaitu bid’ah yang
sifatnya bertentangan dengan hukum haram, seperti mengadakan rombongan
ziarah Wali Sanga dalam satu bus yang pesertanya bercampur antara
lelaki dengan perempuan yang bukan mahramnya, bahkan terkadang dipimpin
seorang wanita. Ziarah ke makam para shalihin hukumnya boleh, asalkan
tidak melanggar ketentuan syariat Islam.

Contoh lain adalah
mengadakan pengajian umum di tengah lapang, dengan pengunjung lelaki
dan perempuan yang bercampur aduk tanpa pembatas. Sebelum acara inti,
diselingi orkes gambus oleh fatayat, bahkan seorang mubalighah tampil
sebagai pembicara, dan terkadang mengenakan baju sedikit ketat dan
tipis, plus perhiasan yang sangat menarik kaum lelaki yang
memandangnya.

Sudah selayaknya para pengikut aswaja menghindari
bid’ah semacam di atas. Serta meemperhatikan firman Allah SWT yang
artinya : Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah
menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau ayah
mereka…………….” (An Nur : 31)

Termasuk bid’ah yang sering terjadi
pada tempat-tempat pendidikan Islam saat ini adalah seorang guru lelaki
dengan leluasa masuk dan mengajar pelajar putri tanpa batas sesuai
ketentuan agama, atau dalam satu kantor pesantren / madrasah, atau
bahkan kantor ormas Islam yang selalu menyuarakan aswaja, justru yang
bertugas adalah pengurus putra dan pengurus putri dalam satu ruangan
bahkan dengan leluasa berinteraksi seperti layaknya saudara se mahram.
Allah SWT berfirman yang artinya :
“Apabila kamu meminta sesuatu
(keperluan) kepada mereka (istri-istri nabi), maka mintalah dari
belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati
mereka”. (Al Ahzab : 53)

Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahramnya, haruslah dibatasi dengan tabir.

Adapun
bid’ah dhalalah yang sangat mengkhawatirkan dapat menjurus kepada
kemurtadan dan kekufuran, juga telah banyak berkembang di kalangan umat
Islam dewasa ini, yang kadangkala dilakukan secara individu maupun
secara berjamaah. Sebagai contoh, seorang muslim mengucapkan dengan
serius kepada non muslim, semisal : Selamat Natal, bahkan ikut
bergembira dan merayakan perayaan natal tersebut baik di gereja maupun
di tempat lain. Contoh lain adalah mengadakan ritual doa bersama
muslim-non muslim, dengan mengamini setiap doa yang dilantunkan oleh
setiap tokoh agama yang berlainan. Bid’ah mencaci-maki para shahabat
Nabi SAW senabagimana yang sering dilakukan oleh pengikut aliran Syi’ah
Iran. Demikian dan lain sebagainya.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: