Home > Uncategorized > Sekilas Pandang Mengenai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Sekilas Pandang Mengenai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Membahas
Ahlus Sunnah wal Jamaah (aswaja) akan membutuhkan curahan perhatian dan
konsentrasi penuh, apabila ingin memahaminya secara detail dan
sempurna. Karena pembahasan tentang aswaja dapat berorientasi terhadap
berbagai macam tinjauan, perumusan dan pemahaman, sesuai dari sudut
mana memandangnya.

Tinjauan pertama, aswaja diartikan sebagai
suatu kajian ilmiah yang bisa dipelajari lewat literatur-literatur.
Kedua, aswaja merupakan suatu keyakinan yang bertempat jauh di lubuk
hati, yang mewarnai perilaku hidup seseorang. Ketiga, aswaja bisa
dipandang sebagai wadah bagi berkumpulnya individu yang mengarah kepada
satu misi yang disepakati. Dan masih banyak lagi rumusan pengertian dan
pemahaman aswaja menurut titik pandang tertentu yang selama ini terus
berkembang di kalangan masyarakat.

Bentuk dari perkembangan
rumusan pengertian dan pemahaman aswaja ditandai dengan banyaknya ORMAS
(Organisasi Massa) yang sering mengklaim atau mengatasnamakan dirinya
sebagai ormas aswaja. Tempat pendidikan semacam pesantren, madrasah
diniyah, madrasah dengan kurikulum formal dan majlis taklim juga banyak
yang memasang label aswaja sebagai asas organisasi. Bahkan menjamurnya
orsospol / partai politik di era reformasi ini juga tak luput dari
embel-embel aswaja pada asas partai dan AD/ART-nya.

Karena
setiap individu dan kelompok mempunyai kepentingan dan tinjauan yang
berbeda-beda, maka pemahaman tentang aswaja juga menjadi bervariasi
antara satu dengan yang lain. Bahkan terkadang di antara kelompok
tersebut ada yang merasa ‘lebih aswaja’ dibanding kelompok lain. Hal
ini juga sejalan dengan firman Allah yang artinya :

“Setiap kelompok pasti membanggakan ciri khas yang ada pada dirinya.”
(QS. Al mukminun, 53).

Maka,
kuat/lemahnya pengakuan mereka tergantung dari kadar pemahamannya
terhadap aswaja, serta penerapannya terhadap prilaku kelompok tersebut
sesuai dengan kaedah-kaedah yang terkandung di dalam aswaja itu
sendiri. Seorang penyair mengatakan:
Wakullun yadda’i wushlan bi Laila # wa Laila la tuqirru lahu bi dzaka
“Semuanya mengaku sebagai pecinta (kekasih ) Laila. Namun Laila tidak mengakui mereka sebagai kekasihnya”.
Syair tersebut mengisyaratkan bahwa sebaik-baik pengakuan adalah pengakuan yang disesuaikan dengan keadaan sebenarnya.

Agar
kelompok-kelompok yang mengaku sebagai ‘anak buah’ aswaja bisa
mengenali dirinya sendiri, apakah ia sudah sesuai dengan aswaja atau
belum, maka sebagai pengenalan dasar hendaknya memperhatikan hadits
nabi tentang definisi aswaja :
“Telah terpecah kaum Yahudi tujuh
puluh satu golongan, dan terpecah pula kaum Nasrani menjadi tujuh puluh
dua golongan, sedangkan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga
golongan, semuanya berada di neraka kecuali satu golongan”. Tatkala
Rasulullah SAW ditanya tentang golongan yang selamat itu, beliau SAW
menjawab: “Golongan yang mengikuti perilakuku dan perilaku para
shahabatku”.
Hadits ringkas dan padat ini sebenarnya mempunyai
arti dan kandungan yang sangat luas, bahkan telah mencakup seluruh
sendi dan pilar agama Islam. Sebab inti dari beragama Islam adalah
ittiba’ (mengikut secara mutlak) kepada Rasulullah SAW.

Beberapa hal yang merupakan dari ittiba’ (mengikuti) kepada beliau SAW misalnya :

Perintah
Rasulullah SAW terhadap pelaksanaan shalat yang merupakan ‘imaduddin
(tiang agama) beliau SAW bersabda yang artinya : “Shalatlah seperti
kalian melihat aku shalat”
Perintah menunaikan ibadah haji, sabda beliau yang artinya: mencontohlah dariku manasik haji kalian”
Dua
hal di atas dikuatkan oleh ayat Alquran artinya : “Dan bagi kalian pada
diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik” (QS. Al-ahzab,21).
Dua
contoh di atas sengaja disederhanakan, namun tidak berarti meniru
Rasulullah SAW hanya dalam hal-hal ibadah Mahdhah seperti itu, karena
ayat tersebut di atas memberi peluang gerak yang lebih luas lagi, yaitu
perintah meniru perilaku Rasulullah SAW termasuk dalam kehidupan
pribadi, bermasyarakat, berpolitik, dan bernegara.

Di samping
itu, kita tidak boleh mengenyampingkan ilmu dan ajaran para shahabat
Nabi SAW, di mana mereka adalah murid-murid Nabi SAW yang dalam
kehidupan sehari-harinya berkiblat pada beliau SAW. Lebih-lebih lagi
mereka hidup pada zaman diturunkannya Alquran. Maka secara otomatis
perilaku para sahabat telah terkontrol oleh turunnya ayat Alquran
maupun sabda dan pengawasan Rasulullah SAW secara langsung. Demikianlah
kira-kira arti yang tersirat dalam hadits Nabi SAW di atas.

Dari
sinilah individu dan kelompok yang telah mengklaim dirinya sebagai
penganut aswaja, pertama harus tahu persis tentang pribadi Nabi SAW dan
ajaran syariatnya secara menyeluruh dan berupaya menjalakan ajaran
tersebut secara utuh, artinya menerapkannya di dalam kehidupan
sehari-hari baik yang berkaitan dengan urusan pribadi dan keluarga,
hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, baik tata cara
berekonomi, sosial, politik maupun beragama.

Kedua, harus rajin
mempelajari biogarafi para shahabat, ajaran dan ijtihad serta pemikiran
mereka untuk diresapi dan diikuti sebagai pijakan menjalankan rotasi
kehidupan secara islami yang haqiqi. Tanpa itu, pengakuan sebagai
penganut aswaja, hanyalah fatamorgana belaka.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: