Home > Uncategorized > Nasihat Bagi yang Bernasab

Nasihat Bagi yang Bernasab

 Jika seseorang dikenal dengan keluasan ilmu,
kewalian, ibadah, kebaikan, kedermawanan atau zuhudnya maka manusia akan
mencintai dan mempercayainya. Mereka cinta kepadanya, sering mendatanginya dan
meminta perlindungan dari sesuatu yang sedang menimpa mereka karena didzalimi
oleh penguasa atau yang lain. Orang yang sholeh tersebut akan mengerahkan
kewibawaannya dan membela mereka dengan lisannya sesuai dengan keterbatasan
pengaruh kewibawaan dan ucapannya.

Dia memandang hal tersebut adalah fardhu wajib
baginya untuk membela mereka karena sebab-sebab syar’i dan untuk menegakkan hak
Islam, hak ukhuwah, hak berteman dan hak cinta terhadap sesama. Hal itu juga
dilakukan sebagai suatu tanda syukur atas karunia dan nikmat yang Allah berikan
kepadanya dari kewibawaan dan keterpandangan ucapannya. Dia tidak menginginkan
pemberian atau upah apapun dari mereka jika upayanya (untuk membela mereka)
berhasil. Bahkan dia mencurahkan hartanya untuk hal itu. Dia lebih berupaya
keras menghindarkan mereka dari perbuatan dholim yang menimpa mereka daripada
yang menimpa dirinya sendiri. Jika upayanya berhasil, ya sudahlah dan jika
tidak berhasil maka dia serahkan urusannya kepada Allah dan dia tidak berupaya
kecuali dengan hal-hal tersebut. Inilah perjalanan orang-orang yang sholeh.

Lalu berpulanglah mereka para sholihin. Mulailah
anak-anak mereka atau yang lain menggantikan kedudukannya. Sayangnya mereka
tidak berjalan sebagaimana orang yang sholeh (yang terdahulu) berjalan. Mereka
tidak berjalan diatas thoriqohnya, tidak juga mengambil ilmu darinya, tidak
juga meneladaninya didalam kezuhudan dan ibadahnya serta ketidaktamakannya
terhadap perhatian manusia kepadanya. Bahkan mereka ingin sekali mengharap
semua manusia itu mencintainya. Mereka tamak terhadap apa yang ada pada
manusia. Kalau sudah demikian, mulailah manusia lari dan meninggalkan mereka.
Manusia memohon dengan sangat kepada mereka agar mereka sadar dan melakukan apa
yang sudah dilakukan oleh orang yang sholeh dan orang-orang tuanya yang telah
mendahului mereka. Mereka itu sudah bertindak yang tidak sepatutnya merendahkan
orang yang sholeh dan orang-orang tuanya.

Demi Allah, sungguh suatu musibah dan bencana yang
besar tertuju pada kedangkalan agama dan akal orang yang mengaku-ngaku bahwa
dia sudah bisa membalas kebaikan dari orang yang sholeh dan kebaikan orang tua
atau datuknya. Sungguh demi Allah tidaklah orang tersebut berakhlak kecuali dia
adalah manusia yang rendah semangat dan harga dirinya, cenderung bertabiat
seperti manusia murahan dan rendahan bahkan yang paling rendah. Jiwanya tidak
melihat kepada akhlak-akhlak yang mulia yang dicontohkan orang yang dekat dengannya.
Semangatnya tidak condong kepada orang di sekitarnya yang mulia dan sifat-sifat
mereka yang begitu agung dimana paling sederhananya sifat mereka adalah zuhud
dari dunia dan kemewahannya, tawadhu, ketidakadaan sifat riya terhadap manusia,
selalu berbuat insyaf dan tidak pernah merasa keinsyafannya itu sudah cukup,
serta perbuatan dan perilaku mereka yang mulia dan diatas kebenaran.

“Mereka
berjalan menuju ke timur, sedangkan kamu berjalan menuju ke barat

Duh
alangkah jauhnya jarak antara timur dan barat…”

Sudah selayaknya bagi seseorang yang menggantikan
kedudukan para sholihin untuk bersungguh-sungguh berjalan diatas thoriqoh
mereka, berusaha menyerupai mereka lahir dan batin dan mengakui bahwa ia masih
kosong dari apa yang telah diperbuat oleh mereka. Tidaklah pantas baginya
mengaku-ngaku bahwa ia sudah dapat melakukan apa yang telah mereka perbuat.
Tidaklah pantas baginya meminta-minta kepada orang lain untuk menghormati,
mengagungkan dan mencintainya. Seandainya orang lain sudi memuliakannya dan
berbuat baik kepadanya, maka sudah sepatutnya ia membalasnya dengan suatu
pemberian, doa atau pujian. Dan seandainya orang lain berbuat sebaliknya,
berbuat jahat kepadanya, memusuhi atau menyakitinya, atau memusuhi orang yang
berlindung dengannya, maka seharusnya ia melihat bahwa itu adalah merupakan
suatu nikmat yang wajib disyukuri dan memandangnya sebagai suatu pemberian yang
besar. Dia cukup menyerahkan itu semua kepada Allah sebagaimana orang-orang
yang telah mendahuluinya berbuat seperti itu.

Tidak sepatutnya ia membalas dengan permusuhan dan
pertikaian, karena hal ini akan mengeluarkannya dari jalan yang telah ditempuh
oleh orang-orang sholeh yang ia mengaku menggantikan tempat mereka. Kalau hal
ini dilakukan, maka ini akan menjadi saksi padanya atas kebohongannya, karena
membalas dengan permusuhan dan pertikaian terhadap orang berbuat dholim juga
merupakan suatu kedholiman serta menyamakan dirinya dengan orang tersebut.

Saya berbicara mengenai hal ini karena melaksanakan
sebagian kewajiban mereka para kaum sholihin. Mudah-mudahan ini bisa diambil
sebagai suatu nasehat dan bermanfaat bagi yang membutuhkan. Semoga Allah
menjadikan aku sebagai salah satu dari orang-orang yang memberikan petunjuk
kepada kebaikan.

[Disarikan
dari Majmu’ Kalam Al-Habib Abdulloh bin Husin Bin Thohir Ba’alawy, hal.
131-132]

Posted with WordPress for BlackBerry.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: