Home > Uncategorized > Kisah Pecinta Ahlu Bait Rasulullah SAW

Kisah Pecinta Ahlu Bait Rasulullah SAW

Di dalam kitab Al-Multaqith diceritakan, bahwa
sebagian bangsa Alawiyyah (Keturunan Rasulullah) ada yang bermukim di daerah Balkh (Iraq). Ada
sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami isteri dengan beberapa anak
wanita mereka. Keadaan keluarga tersebut serba
kekurangan.    

Ketika suaminya meninggal dunia, isteri beserta
anak-anak wanitanya meninggalkan kampung halamannya pergi ke Samarkand
untuk menghindari ejekan orang di sekitarnya. Kejadian tersebut berlaku pada
musim dingin. Saat mereka telah memasuki kota,
si ibu mengajak anak-anaknya singgah di masjid, sementara dirinya pergi untuk
mencari sesuap nasi.    

Di tengah perjalanan si ibu berjumpa dengan dua
kelompok orang, yang satu dipimpin oleh seorang Muslim yang merupakan tokoh di
kampung itu sendiri, sedang kelompok satunya lagi dipimpin oleh seorang Majusi,
pemimpin kampung itu. Si ibu tersebut lalu menghampiri tokoh tersebut dan
menjelaskan mengenai dirinya serta berkata, “Aku mohon agar tuan berkenan
memberiku makanan untuk keperluan malam ini!” “Tunjukkan bukti-bukti bahawa
dirimu benar-benar bangsa Alawiyyah,” kata tokoh orang Muslim di kampung itu.
“Di kampung tidak ada orang yang mengenaliku,” kata ibu
tersebut.    

Sang tokoh itu pun akhirnya tidak
menghiraukannya. Seterusnya dia hendak memohon kepada si Majusi, pemimpin
kampung tersebut. Setelah menjelaskan tentang dirinya dengan tokoh kampung,
lelaki Majusi lalu memerintahkan kepada salah seorang anggota keluarganya untuk
datang ke masjid bersama si ibu itu, akhirnya dibawalah seluruh keluarga janda
tersebut untuk tinggal di rumah Majusi yang memberinya pula pelbagai perhiasan
serba indah.    

Sementara tokoh masyarakat yang beragama Islam
itu bermimpi seakan-akan hari Kiamat telah tiba dan panji kebenaran berada di
atas kepala Rasulullah SAW. Dia pun sempat menyaksikan sebuah istana tersusun
dari zamrud berwarna hijau. Kepada Rasulullah SAW. dia lalu bertanya, “Wahai
Rasululah! Milik siapa istana ini?” “Milik seorang Muslim yang mengesakan
Allah,” jawab baginda. “Wahai Rasulullah, aku pun seorang Muslim,” jawabnya. “Cuba
tunjukkan kepadaku bahawa dirimu benar-benar seorang Muslim yang mengesakan
Allah,” sabda Rasulullah SAW. kepadanya.     Tokoh di
kampung itu pun bingung atas pertanyaan baginda, dan kepadanya Rasulullah SAW.
kemudian bersabda lagi, “Di saat wanita Alawiyah datang kepadamu, bukankah kamu
berkata kepadanya, “Tunjukkan mengenai dirimu kepadaku!” Kerananya, demikian
juga yang harus kamu lakukan, iaitu tunjukkan dahulu mengenai bukti diri
sebagai seorang Muslim kepadaku!”    

Sesaat kemudian lelaki muslim itu terjaga dari
tidurnya dan air matanya pun jatuh berderai, lalu dia memukuli mukanya sendiri.
Dia berkeliling kota untuk mencari
wanita Alawiyah yang pernah memohon pertolongan kepadanya, hingga dia mengetahui
di mana kini wanita tersebut berada.    

Lelaki Muslim itu segera berangkat ke rumah orang
Majusi yang telah menampung wanita Alawiyah beserta anak-anaknya. “Di mana
wanita Alawiyah itu?’ tanya lelaki Muslim kepada orang Majusi. “Ada
padaku,” jawab si Majusi. “Aku sekarang menghendakinya,” ujar lelaki Muslim
itu. “Tidak semudah itu,” jawab lelaki Majusi. “Ambillah wang seribu dinar
dariku dan kemudian serahkan mereka padaku,” desak lelaki Muslim. “Aku tidak
akan melepaskannya. Mereka telah tinggal di rumahku dan dari mereka aku telah
mendapatkan berkatnya,” jawab lelaki Majusi itu. “Tidak boleh, engkau harus
menyerahkannya,” ujar lelaki Muslim itu seolah-olah
mengugut.    

Maka, lelaki Majusi pun menegaskan kepada tokoh
Muslim itu, “Akulah yang berhak menentukan apa yang kamu minta. Dan istana yang
pernah kamu lihat dalam mimpi itu adalah diciptakan untukku! Adakah kamu mahu
menunjukkan keislamanmu kepadaku? Demi Allah, aku dan seluruh keluargaku tidak
akan tidur sebelum kami memeluk agama Islam di hadapan wanita Alawiyah itu, dan
aku pun telah bermimpi sepertimana yang kamu mimpikan, serta Rasulullah SAW.
sendiri telah pula bersabda kepadaku, “Adakah wanita Alawiyah beserta anaknya
itu padamu?” “Ya, benar,” jawabku. “Istana itu adalah milikmu dan seluruh keluargamu.
Kamu dan semua keluargamu termasuk penduduk surga, kerana Allah sejak zaman
azali dahulu telah menciptakanmu sebagai orang Mukmin,” sabda baginda kembali.

 

 

I

Categories: Uncategorized
  1. Raajii RAHMATILLAAH
    July 16, 2011 at 2:22 am

    izin copy ya ust

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: