Home > Uncategorized > Cinta Sejati Kepada Sang Nabi SAW

Cinta Sejati Kepada Sang Nabi SAW

Hukum Mencintai Nabi SAW

Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah SAW pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari)

Di lain kesempatan, Rasulullah SAW menegaskan, “Demi Allah, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Banyak sekali hadits-hadits yang senada dengan dua hadits di atas, yang menekankan wajibnya mencintai Nabi SAW, karena hal itu merupakan salah satu inti agama, hingga keimanan seseorang tidak dianggap sempurna hingga dia merealisasikan cinta tersebut. Bahkan seorang muslim tidak mencukupkan diri dengan hanya memiliki rasa cinta kepada Nabi SAW saja, akan tetapi dia dituntut untuk mengedepankan kecintaannya kepada Rasulullah SAW -tentunya setelah kecintaan kepada Allah- atas kecintaan dia kepada dirinya sendiri, orang tua, anak dan seluruh manusia.

Potret Kecintaan Para Sahabat Kepada Nabi SAW

Bicara masalah cinta Rasul SAW, para sahabat Nabi SAW, tanpa diragukan lagi adalah orang terdepan dalam perealisasian kecintaan mereka kepada Beliau SAW. Mengapa? Sebab cinta dan kasih sayang merupakan buah dari perkenalan, dan para sahabat merupakan orang yang paling mengenal dan paling mengetahui kedudukan Rasulullah SAW, maka tidak mengherankan jika cinta mereka kepada Beliau jauh lebih besar dan lebih dalam dibandingkan kecintaan orang-orang yang datang sesudah mereka.
Di antara bukti perkataan di atas, adalah suatu kejadian yang terekam dalam sejarah yaitu: Perbincangan yang terjadi antara Abu Sufyan bin Harb -sebelum ia masuk Islam- dengan sahabat Zaid bin ad-Datsinah radhiallahu ‘anhu ketika beliau tertawan oleh kaum musyrikin lantas dikeluarkan oleh penduduk Mekkah dari tanah haram untuk dibunuh.
Abu Sufyan berkata, “Ya Zaid, maukah posisi kamu sekarang digantikan oleh Muhammad dan kami penggal lehernya, kemudian engkau kami bebaskan kembali ke keluargamu?”

Serta merta Zaid menimpali, “Demi Allah, aku sama sekali tidak rela jika Muhammad sekarang berada di rumahnya tertusuk sebuah duri, dalam keadaan aku berada di rumahku bersama keluargaku!!!” Maka Abu Sufyan pun berkata, “Tidak pernah aku mendapatkan seseorang mencintai orang lain seperti cintanya para sahabat Muhammad kepada Muhammad!” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, karya Ibnu Katsir [V/505], dan kisah ini diriwayatkan pula oleh al-Baihaqy dalam Dalail an-Nubuwwah [III/326]).

Kisah lain diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, “Di tengah-tengah berkecamuknya peperangan Uhud, tersebar desas-desus di antara penduduk Madinah bahwa Nabi SAW terbunuh, hingga terdengarlah isakan tangisan di penjuru kota Madinah. Maka keluarlah seorang wanita dari kalangan kaum Anshar dari rumahnya, di tengah-tengah jalan dia diberitahu bahwa bapaknya, anaknya, suaminya dan saudara kandungnya telah tewas terbunuh di medan perang.

Ketika dia memasuki sisa-sisa kancah peperangan, dia melewati beberapa jasad yang bergelimpangan, “Siapakah ini?”, tanya perempuan itu. “Bapakmu, saudaramu, suamimu dan anakmu!”, jawab orang-orang yang ada di situ. Perempuan itu segera menyahut, “Apa yang terjadi dengan Rasulullah SAW?!” Mereka menjawab, “Itu ada di depanmu.” Maka perempuan itu bergegas menuju Rasulullah SAW dan menarik bajunya seraya berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak akan mempedulikan (apapun yang menimpa diriku) selama engkau selamat!” (HR. Ath Thabarani dan Abu Nu’aim)

Sayyidatuna Khadijah RA

Begitu pula Ummul Mu’minin Khadijah RA, yang mulia, wanita agung yang sangat mencintai Rasulullah SAW. Beliaulah insan yang selalu membantu Rasulullah SAW, senantiasa memacu semangatnya untuk tetap berdakwah. Menyelimuti, mengasihi, dan mendukungnya, karena dorongan cinta yang mendalam kepada insan ini, insan yang terpercaya dan jujur. la menuturkan perkataannya yang terkenal, “Bergembiralah, wahai anak pamanku! Teguh hatilah engkau. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya, aku sungguh berharap engkau menjadi nabi dari umat ini. Demi Allah, ia tak akan menghinakanmu selamanya. Sungguh engkau adalah seorang yang selalu menyambung silaturahim, berbicara benar, menyantuni orang lemah, menjamu tamu, dan menolong untuk hal-hal yang benar.”

Rasulullah SAW pun sangat setia kepadanya. Lihatlah bagaimana beliau membela Khadijah RA ketika Ummul Mu’minin Aisyah, yang cemburu karena beliau sering menyebut Khadijah RA, berkata kepada beliau, “la tak lebih hanya seorang wanita tua. Allah telah menggantikan untukmu yang lebih baik daripadanya.”
Berkatalah Rasulullah SAW karena setianya kepada wanita terhormat ini, serta karena mengagungkan dan memuliakannya, “Demi Allah, Allah tidak menggantikan untukku yang lebih baik dari padanya. la beriman kepadaku ketika masyarakat tak satu pun yang percaya kepadaku. la membenarkanku ketika orang-orang mendustaiku. la membantuku ketika orang-orang membiarkanku.”
Khadijah RA sangat mencintai beliau, sehingga Allah pun mencintainya dan memuliakannya.

Sahabat Abdullah bin Umar

Demikian juga setelah Rasulullah SAW wafat. Ketika Bilal RA datang dari negeri Syam ke kota Madinah setelah Nabi SAW wafat, orang-orang memintanya untuk mengumandangkan adzan bagi mereka sebagaimana yang dilakukannya ketika Rasulullah SAW masih hidup.
Penduduk kota Madinah, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa, berkumpul untuk mendengarkan adzannya.
Ketika Bilal mengucapkan Allahu Akbar, Allahu Akbar, semuanya berteriak dan menangis. Sewaktu ia mengucapkan Asyhadu anlailahaillallah, mereka mulai gaduh. Saat ia melafadzkan Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, tidak ada seorang pun di Madinah yang tak menangis dan tak berteriak. Para gadis keluar dari kamar-kamar mereka dengan menangis.

Hari itu menjadi seperti hari wafatnya Rasulullah SAW. Semuanya karena mereka teringat dengan masa Nabi SAW yang cemerlang dan bercahaya.
Demikian pula dengan Abdullah bin Umar. Ketika nama Rasulullah SAW di sebut, ia selalu meneteskan air mata. Dan tidaklah ia melewati rumah Rasulullah SAW melainkan ia pejamkan kedua matanya. Sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab az-Zuhud dengan sanad shahih, saking cintanya kepada Rasulullah SAW, ia selalu mengikuti atsar-atsar(kebiasaan) Rasulullah SAW.

Di setiap masjid, di mana Nabi pernah melakukan shalat di situ, ia pun shalat di situ. Saat berhaji, ketika wuquf di Arafah, ia selalu wuquf di tempat Rasulullah wuquf. Bahkan ia juga selalu memeriksa untanya di setiap jalan yang dilihatnya Rasulullah SAW pernah memeriksa untanya di situ.

Sahabat Ikrimah bin Abu Jahl

Begitu pula Ikrimah bin Abu Jahl RA, yang selalu setuju dengan Rasulullah SAW dan senantiasa teguh hatinya. la gugur pada Perang Yarmuk. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, ia meletakkan kepalanya di atas paha Khalid bin Al-Walid, seraya berkata dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya, “Wahai paman, apakah kematian ini membuat Rasulullah ridha kepadaku?” Pada saat kritis seperti itu pun ia teringat Rasulullah SAW, dan keinginannya hanyalah agar Rasulullah SAW ridha kepadanya.

Imam Malik

Demikian pula Imam Malik RA, imam negeri hijrah (Madinah). Dalam biografinya disebutkan, Imam Malik tidak pernah berkendaraan di kota Madinah walaupun telah lemah dan telah tua usianya. la mengatakan, “Aku tak mau menaiki kendaraan di kota di mana jasad Rasulullah SAW dikebumikan.” Ini karena penghormatan dan kecintaannya yang begitu besar kepada Rasulullah SAW.
Di antara penghormatan dan pengagungannya yang luar biasa terhadap Nabi adalah sebagaimana yang disebutkan dalam biografinya juga. Jika ingin menyampaikan hadits Rasulullah SAW, ia berwudhu, kemudian duduk di atas tilamnya. Dirapikannya jenggotnya, lalu ia duduk dengan penuh penghormatan dan penuh wibawa, kemudian barulah ia menyampaikan hadits.
Ketika ditanya tentang hal itu, ia menjawab, “Aku ingin mengagungkan hadits Rasulullah SAW.”

Imam AI-Bukhari

Begitu pula Imam AI-Bukhari RA, yang sangat mencintai dan menghormati Rasulullah SAW. Jika ingin menulis hadits, pertama ia memulainya dengan bersuci dan melakukan shalat dua rakaat. Lalu saat menulis hadits, ia melakukannya dengan penuh penghargaan, penghormatan, dan pengagungan kepada Rasulullah SAW dan hadits-haditsnya.
Demikianlah sebagian dari potret kepatriotan para sahabat Nabi SAW dan para kaum sholihin dalam mengungkapkan rasa cinta mereka kepada Rasulullah SAW.

Pahala Bagi Orang yang Mencintai Nabi SAW

Tentunya cinta Nabi SAW merupakan suatu ibadah yang amat besar pahalanya. Banyak ayat-ayat Al Quran maupun hadits-hadits Nabi SAW yang menjelaskan ganjaran yang akan diperoleh seorang hamba dari kecintaan dia kepada Rasulullah SAW. Di antara dalil-dalil tersebut:

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?” Nabi pun SAW menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya SAW.” Maka Rasulullah pun SAW bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.”

Anas pun berkata, “Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi SAW, ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.'” Anas kembali berkata, “Aku mencintai Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya)
Adakah keberuntungan yang lebih besar dari tinggal bersama Nabi SAW dan para sahabatnya di surga kelak??

Hakikat Cinta Pada Nabi SAW dan Ragam Manusia di Dalamnya

Setelah kita sedikit membahas tentang hukum mencintai Nabi SAW, beberapa potret cinta para sahabat kepada Beliau SAW, serta ganjaran yang akan diraih oleh orang yang mencintai Rasulullah SAW, ada perkara yang amat penting untuk kita ketahui berkenaan dengan masalah ini, yaitu: bagaimanakah sebenarnya hakikat cinta kepada Rasulullah SAW?, bagaimanakah seorang muslim mengungkapkan rasa cintanya kepada al-Habib al-Mushthafa SAW? Apa saja yang harus direalisasikan oleh seorang muslim agar dia dikatakan telah mencintai Nabi SAW?

Masalah ini perlu kita angkat, karena di zaman ini banyak orang yang menisbatkan diri mereka ke agama Islam mengaku bahwa mereka telah mencintai Rasulullah SAW dan telah mengagungkannya. Akan tetapi apakah setiap orang yang mengaku telah merealisasikan sesuatu, dapat diterima pengakuannya? Ataukah kita harus melihat dan menuntut darinya bukti-bukti bagi pengakuannya? Tentunya alternatif yang kedua-lah yang seyogyanya kita ambil.

Termasuk tanda mencintai Rasulullah SAW, adalah mencintai orang-orang yang dicintainya. Mereka antara lain: keluarga dan keturunannya (ahlul bait), para sahabatnya serta setiap orang yang mencintai beliau SAW. Juga masih dalam kerangka mencintai Nabi SAW, adalah kewajiban untuk memusuhi setiap orang yang memusuhinya serta menjauhi orang yang menyelisihi sunnahnya dan berbuat bid’ah. Adapun golongan yang meremehkan Nabi SAW, adalah orang-orang yang lalai dalam merealisasikan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Mereka tidak memperhatikan hak-hak Nabi SAW yang telah disebutkan di atas.

Di antara potret peremehan mereka adalah: Sangkaan mereka bahwa hanya dengan meyakini kerasulan Nabi Muhammad SAW sudah cukup untuk merealisasikan cinta kepada Beliau SAW, tanpa harus “capek-capek” mengikuti tuntunannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: