Archive

Author Archive

Sirrul Assrar dari Syeikh Abdul Qadir Jailani 13/27

April 20, 2012 Leave a comment

TABIR CAHAYA DAN KEGELAPAN

Allah berfirman: “Sesiapa yang buta di dunia buta juga di akhirat”. (Surah Bani Israil, ayat 72).

Bukan buta mata yang di kepala tetapi buta mata yang di hati yang menghalang seseorang daripada melihat cahaya hari akhirat. Firman Allah: “Bukan matanya yang buta tetapi hatinya yang di dalam dada”. (Surah Hajj, ayat 46).

Hati menjadi buta disebabkan oleh kelalaian, yang membuat seseorang lupa kepada Allah dan lupa kepada kewajipan mereka, tujuan mereka, ikrar mereka dengan Allah, ketika mereka masih berada di dalam dunia. Sebab utama kelalaian adalah kejahilam terhadap hakikat (kebenaran) undang-undang dan peraturan Tuhan. Apa yang menyebabkan seseorang itu berterusan di dalam kejahilam ialah kegelapan yang menyeluruh menutupi seseorang dari luar dan sepenuhnya menguasai batinnya. Sebahagian daripada nilai-nilai itu yang mendatangkan kegelapan ialah sifat-sifat angkuh, sombong, megah, dengki, bakhil, dendam, bohong, mengumpat, fitnah dan lain-lain sifat keji. Sifat-sifat yang keji itulah yang merendahkan ciptaan Tuhan yang sangat baik sehingga jatuh kepada tahap yang paling rendah.

Untuk membebaskan seseorang daripada kejahatan itu dia perlu menyucikan dan menyinarkan cermin hatinya. Penyucian ini dilakukan dengan mendapatkan pengetahuan, dengan beramal menurut pengetahuan itu, dengan usaha dan keberanian, melawan ego diri, menghapuskan yang banyak pada diri, mencapai keesaan. Perjuangan ini berterusan sehingga hati menjadi hidup dengan cahaya keesaan – dan dengan cahaya keesaan itu mata bagi hati yang suci akan melihat hakikat sifat-sifat Allah di sekeliling dan pada dirinya.

Hanya selepas itu baharu kamu ingat akan kediaman kamu yang sebenar yang darinya kamu datang. Kemudian kamu akan ada rasa kerinduan dan keinginan untuk kembali kepada rumah kediaman yang sebenar, dengan pertolongan Yang Maha Mengasihani roh suci pada diri kamu akan menyatu dengan-Nya.

Bila sifat-sifat kegelapan terangkat cahaya mengambil alih tempatnya dan orang yang memiliki mata rohani akan melihat. Dia mengenali apa yang dia lihat dengan cahaya nama-nama sifat Ilahiah. Kemudian dirinya dibanjiri oleh cahaya dan bertukar menjadi cahaya. Cahaya ini masih lagi hijab menutupi cahaya suci Zat, tetapi masanya akan sampai bila ini juga akan terangkat, yang tinggal hanya cahaya suci Zat itu sendiri.

Hati mempunyai dua mata, satu yang sempat dan satu lagi yang luas. Dengan mata yang sempat seseorang boleh melihat kenyataan sifat-sifat dan nama-nama Allah. Penglihatan ini berterusan sepanjang perkembangan kerohaniannya. Mata yang luas melihat hanya kepada apa yang dijadikan kelihatan oleh cahaya keesaan dan yang esa. Hanya bila seseorang sampai kepada daerah kehampiran dengan Allah dia akan melihat, di dalam alam penghabisan bagi kenyataan Zat Allah, Yang Esa dan Mutlak.

Bagi mencapai makam-makam ini ketika masih di dalam dunia, di dalam kehidupan ini kamu mestilah membersihkan diri kamu daripada sifat-sifat keduniaan, yang ego dan keegoan. Jarak yang kamu mengembara di dalam kenaikan kamu ke arah makam-makam tersebut bergantung kepada sejauh mana kamu mengasingkan diri daripada hawa nafsu yang rendah dan ego diri kamu.

Pencapaian kamu kepada matlamat yang kamu inginkan bukanlah seperti barang kebendaan sampai ke tempat kebendaan. Ia juga bukan ilmu yang membawa seseorang kepada sesuatu yang menjadi diketahui (daripada tidak tahu), juga bukan pertimbangan yang memperolehi apa yang difikirkan, bukan juga khayalan yang menyatu dengan apa yang dikhayalkan. Matlamat yang kamu ingin capai ialah kesedaran tentang ketiadaan (kekosongan) kamu daripada segala sesuatu kecuali Zat Allah. Pencapaian ini adalah perubahan suasana yang terjadi, bukan perubahan pada sesuatu yang nyata. Di sana tiada jarak, tiada dekat atau jauh, tiada kesampaian, tiada ukuran, tiada arah, tiada ruang.

Dia Maha Besar, segala puji untuk-Nya. Dia Maha Pengampun. Dia menjadi nyata dalam apa yang Dia sembunyikan daripada kamu. Dia menyatakan Diri-Nya sebagaimana Dia melabuhkan tirai di antara Dia dengan kamu. Pengenalan tentang Diri-Nya tersembunyi di dalam ketidakupayaan mengenali-Nya.

Jika ada di antara kamu yang sampai kepada cahaya yang diterangkan dalam buku ini ketika kamu masih lagi berada di dalam dunia, buatlah muhasabah (hisab) terhadap diri kamu, buku catatan kamu tentang amalan kamu. Hanya di bawah cahaya kamu boleh melihat apa yang kamu sudah buat dan sedang buat; buat kiraan kamu, seimbangkannya. Kamu akan membaca buku catatan kamu di hadapan Tuhan kamu pada hari pembalasan. Itu adalah muktamad. Kamu tidak ada peluang mengimbanginya di sana . Jika kamu lakukan di sini ketika kamu masih ada masa, kamu akan termasuk ke dalam golongan yang diselamatkan. Jika tidak azab dan seksa menjadi bahagian kamu di akhirat. Hidup ini akan berakhir. Di sana ada azab di dalam kubur, ada hari pembalasan, ada neraka yang menimbang sehingga kepada dosa yang paling kecil dan kebaikan yang paling kecil. Kemudian ada jambatan yang lebih halus daripada rambut dan lebih tajam daripada mata pedang, penghujungnya ialah taman, sementara di bawahnya ialah neraka yang penuh dengan kecelakaan, penderitaan, semuanya adalah berkekalan apabila kehidupan yang singkat ini berakhir.

Advertisements
Categories: Uncategorized

TAFSIR SUFISTIK tentang “CAHAYA” Studi Atas Kitab Misykât al-Anwâr Karya al-Ghazâlî

April 20, 2012 Leave a comment

Pengantar

Sarjana-sarjana Muslim telah banyak menghasilkan karya-karya agung di bidang tafsir, dari masa klasik, seperti Jâmi‘ al-Bayân fi Tafsîr al-Qur’ân karangan al-Thabarî, Mafâtîh al-Ghayb karangan Fakhr al-Din al-Râzî, dan al-Kasysyâf ‘an Haqâ’iq al-Ta’wîl karangan Mahmûd al-Zamakhsyârî, hingga modern, seperti Fî Zhilâl al-Qur’ân karangan Sayyid Quthb, Tafsîr al-Marâghî karangan Musthafâ al-Marâghî, Tafsîr al-Mîzân karangan ‘Allamah al-Thabathaba’i, dan di Indonesia sendiri seperti Tafsir al-Mishbâh, karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Berbagai metoda dan pendekatan telah dilakukan oleh mereka, dan telah memperkaya secara signifikan, khazanah penafsiran al-Qur’ân yang kita miliki selama ini.

Dalam artikel ini, saya ingin mencoba membahas sebuah tafsir al-Qur’ân yang bercorak sufistik, yang di sini akan diwakili oleh Abû Hâmid Muhammad al-Ghazâlî (w. 1111) dalam kitabnya yang berjudul Misykât al-Anwâr.[1] Kajian ini, menurut saya, penting sebagai sebuah upaya memperluas wawasan para santri tafsir al-Qur’ân, dengan menyadari bahwa al-Qur’ân ternyata bisa dan telah didekati dari berbagai perspektif. Memang selama ini tafsir al-Qur’ân pada umumnya dilakukan secara tekstual, yakni dengan mengambil makna lahiriah ayat-ayat yang sedang dikajinya. Namun, seperti yang akan saya tunjukkan nanti, ternyata keserjanaan Islam telah melahirkan juga karya-karya yang berusaha menyingkap makna batin yang tersembunyi dari ayat-ayat tertentu al-Qur’an.

Misykât al-Anwâr adalah salah satu contoh yang representative dari karya jenis ini. Selain itu, Misykât al-Anwâr adalah kitab, yang bukan saja besar karena nama pengarangnya Abu Hâmid al-Ghazâlî, tetapi juga karena pengaruhnya yang sangat menentukan atas para pemikir Muslim yang dating kemudian, khususnya para filosof Isyrâqî[2] dan Sufi.

Sekilas tentang Kitab Misykât al-Anwâr

Kitab Misykât al-Anwâr adalah kitab mistik-filosofis karya Imam al-Ghazâlî, untuk seseorang yang ia sapa sebagai “saudara yang mulia” (al-akh al-karîm),[3] yang dipandang khawwâs (orang-orang khusus) oleh beliau. Pada masa itu, pembagian orang-orang kepada kategori ‘awwâm (orang kebanyakan) dan khawwâsh (orang-orang khusus) telah berlaku umum. Bahkan al-Ghazâlî memberi kategori ketiga, yaitu khawwâsh a-khawwâsh.[4] Menurut al-Ghazâlî, karya-karya mistik-filosofis seperti Misykât al-Anwâr ini, tidak boleh tembus ke tangan awam, tetapi tidak boleh juga disembunyikan kepada orang khawwash, apalagi khawwash-al-khawwash. Nah karena orang yang bertanya tentang ini, masuk kategori khawwash (bahkan mungkin khawwash al-khawwash), maka al-Ghazâlî tidak berkeberatan, dan lalu memutuskan untuk menulis karya ini untuknya. Karena kepada orang seperti itu kebenaran tidak boleh ditutup-tutupi.

Hal lain yang menarik dari Misykât al-Anwâr ini, adalah sifatnya yang sangat filosofis. Tidak seperti dalam kitab Ihya’ ‘Ulûm al-Dîn, di mana ia banyak berbicara tentang hati –terutama kitab ‘Ajâ’ib al-Qulûb-nya– dalam karya ini, al-Ghazâlî berbicara dengan begitu respeknya tentang daya rasional, yang disebut akal. Akal, misalnya dipandang lebih cocok disebut sebagai cahaya dibanding dengan indera. Bahkan ia menyebut akal sebagai contoh dari cahaya Tuhan.[5] Kenyataan ini telah menimbulkan kecurigaan di kalangan para ahli al-Ghazâlî, khususnya Montgomery Watt, kalau-kalau Misykât al-Anwâr bukan karya asli al-Ghazâlî, tetapi sebuah karya orang lain yang dinisbatkan kepadanya.[6] Terlepas dari benar-tidaknya, atau, otentik-tidaknya karya ini sebagai karya al-Ghazâlî, namun dari sudut isinya karya ini tetap sangat menarik, baik untuk para sarjana tafsir, tasawuf, maupun filsafat Islam. Di sini pengaruh teori psikologi filosofis seperti yang dikembangkan Ibn Sina[7] cukup kentara.

Poin terakhir yang ingin disampaikan berkenaan dengan kitab ini adalah berkaitan dengan struktur atau komposisi dari karya ini. Pada dasarnya karya ini dibagi ke dalam dua bagian besar; pertama berkenaan dengan tafsir cahaya sebagaimana tercantum dalam Q.S. al-Nûr [24]: 35 yang terkenal itu. Di sini, bahkan judul buku Misykât al-Anwâr itu sendiri, menurut saya, terinspirasi oleh ayat ini, yang memuat di dalamnya kata “misykât” (yang artinya ceruk/niche) sebagai salah satu cahaya yang diberikan Tuhan kepada manusia, di samping yang lainnya. Bagian kedua berkenaan dengan hijab yang ada mengantarai Tuhan dengan hamba-Nya, dan ini merupakan penjelasan atau tafsir sufistik terhadap sebuah hadits Nabi yang mengatakan “Allah memiliki tujuh puluh hijab cahaya dan kegelapan. Kalau hijab ini tersingkap kepada mereka niscaya keagungan wajah-Nya akan membakar siapa saja yang matanya memandang-Nya.”[8] Namun, dalam bagian pertama, sebelum ia berbicara secara terperinci tentang tafsir cahaya ini, al-Ghazâlî mendiskusikan secara panjang lebar makna kata “cahaya. Sedangkan pada bagian kedua, ia menjelaskan secara komprehensif satu persatu dari tujuh puluh hijab yang disinggung dalam hadits tersebut. Namun dalam artikel ini pembahasan hanya akan dibatasi pada bagian pertamanya saja, yang berkenaan dengan tafsir al-Ghazâlî atas Q.S. al-Nur [24]: 35.

Tafsir al-Ghazâlî atas Q.S. al-Nûr [24]: 35.

Bagian pertama dari Misykât al-Anwâr jelas merupakan upaya Imam al-Ghazâlî al-Ghazâlî untuk menafsirkan Q.S. al-Nûr [24]: 35 yang artinya: “Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti relung atau ceruk (misykât/niche) yang di dalamnya ada sebuah lampu (mishbâh), sedangkan lampu tersebut berada di dalam kaca (zujâjah). Adapun kaca tersebut adalah ibarat bintang-bintang gemerlap yang disulut dari sebuah pohon yang diberkati; sebuah pohon zaitun yang bukan Timur, bukan pula Barat, tetapi yang minyaknya akan menyala sekalipun tidak tersenuth oleh api. Cahaya di atas cahaya. Tuhan membimbing dengan cahayanya itu siapa-siapa yang dikehendakinya. Ia memberi berbagai perumpamaan kepada manusia. Ia Maha Tahu segala sesuatu.”

Di bawah ini akan didiskusikan tafsir al-Ghazâlî terhadap ayat di atas, khususnya yang berkenaan dengan beberapa istilah seperti nûr, misykât, mishbâh, zujâjah, syajarah mubârakah, al-zayt dan nûr ‘alâ nûr.” Cahaya didefinisikan oleh beliau sebagai sesuatu yang terang atau tampak (al-zhâhir) pada dirinya dan bisa membuat yang lain terang atau tampak (al-muzhhir).”[9] Cahaya menurutnya memiliki beberapa tingkatan, dan berbagai istilah yang terdapat dalam ayat di atas adalah juga merupakan tingkat-tingkat cahaya yang dimiliki manusia dengan mana manusia terbimbing kepada kebenaran atau Tuhan. Di sini, ia menyandarkan filsafat hirarki cahayanya pada ungkapan yang ada dalam ayat di atas, “nûr ‘alâ al-nûr.”[10]

Menafsirkan ungkapan “Allah adalah cahaya langit dan bumi,” al-Ghazâlî mengatakan bahwa Allah-lah satu-satunya yang bisa disebut cahaya, dalam arti yang sebenarnya, dan dalam hal ini Ia adalah unik dan tidak ada padanannya. Adapun cahaya-cahaya yang lain bisa disebut cahaya hanya secara alegoris (majâzî).[11] Hanya Allah yang betul-betul ada, sedangkan keberadaan yang selain Allah adalah pinjaman, dan karena itu bukan wujud pada dirinya, tetapi wujud karena yang lain.

Al-Ghazâlî menafsirkan istilah-istilah lain selain cahaya yang dijabarkan secara panjang lebar, seperti misykât, mishbâh, zujâjah dll, secara relatif singkat, tetapi sangat penting dan mengesankan. Bagi al-Ghazâlî, istilah-istilah di atas, yakni, misykât, mishbâh, zujâjah, syajarah mubârakah, al-zayt, merujuk kepada lima daya-daya ruhani manusia yang bercahaya (al-arwâh al-basyariyyah al-nuraniyyah),[12] yaitu jiwa indrawi (hissî), imajinasi (khayâlî), daya rasional (‘aqlî), daya reflektif (fikrî), dan (qudsî/nabawî). Dan seperti yang akan dijabarkan, penafsiran sufistik atas mereka dilakukan dengan menarik paralelisme di antara keduanya.

Marilah kita mulai dengan yang pertama, misykât. Al-Ghazâlî menafsirkan misykât sebagai daya-daya inderawi (al-rûh al-hisas), karena kalau kita perhatikan karakteristik daya jiwa ini, maka kita akan mendapatkan cahayanya keluar dari berbagai lobang, seperti dua mata, dua telinga, dua lubang hidung dan sebagainya. Karena itu menurut beliau, perumpamaan yang paling cocok dengan daya spiritual pada dunia lahiriah ini adalah ceruk atau misykât.[13] Daya ini adalah yang dapat menerima apa yang diberikan oleh panca-indera, dan ini dipandang sebagai akar dan penampakan pertama jiwa hewani, karena melalui inilah maka hewan menjadi hewan.

Beralih kepada mishbâh, al-Ghazâlî menyamakannya dengan daya rasional (al-rûh al-‘aqlî), di mana persepsi terhadap pengetahuan yang mulia dan ilahi terjadi. Perumpamaan daya akliah dengan lampu ini menjadi jelas, karena ia bisa menyebarkan cahayanya yang terang ke seluruh penjuru dunia, sebagaimana matahari yang memancarkan cahaya terangnya ke seluruh dunia, sehingga disebutnya “lampu-lampu yang memberi cahaya” (al-sirâj al-munîr), yang pernah dijadikan sebagai julukan bagi para Nabi.

Adapun zujâjah (kaca) ia tafsirkan sebagai daya jiwa yang disebut imaginal (al-rûh al-khayâlî), yang dipandang memiliki 3 (tiga) karakteristik atau ciri yang menyerupai kaca. Pertama, seperti kaca daya imaginasi masih terkait dengan, atau berasal dari, materi dunia rendah yang padat, karena benda-benda yang dikhayalkan memiliki ukuran, bentuk dan arah, dan juga jarak. Kedua, ketika imaginasi yang masih pekat ini dimurnikan, dihaluskan dan digosok, ia menjadi setara dengan makna-makna dan titik-titik rasional yang mengarah pada cahaya mereka. Imajinasi yang telah mencapai tingkat ini tidak akan merintangi cahaya yang datang dari lampu (mishbâh), yakni daya-daya rasional. Karakteristik yang ketiga adalah pada mulanya imajinasi sangat dibutuhkan, karena melalui inilah seseorang dapat menyusun pengetahuan rasionalnya sehingga tidak terombang-ambing, tergoncang atau berserakan.[14] Ketiga ciri ini, menurut pandangan alGhazali, dapat ditemukan perumpamaannya di dunia lahir, hanya dalam kaca. Meski pada awalnya, kaca terbuat dari bahan yang pekat, tetapi sekali dimurnikan dan dibuat terang, maka ia tidak menghalangi cahaya sang lampu, bahkan ia mampu merambatkan cahaya tersebut dengan cara yang baik. Selain itu, ia juga memelihara cahaya dari terpaan angin kencang atau gerakan kasar yang bisa mematikannya.

Beralih kemudian pada “pohon yang diberkati” (syajarah mubârakah), al-Ghazâlî menyamakannya dengan jiwa reflektif (al-rûh al-fikrî). Seperti pohon, jiwa reflektif dimulai dengan sebatang akar dan kemudian muncullah darinya cabang-cabang, dan dari masing-masing cabang tumbuh dua cabang lainnya, dan dari tiap cabang tersebut tumbuh lagi dua cabang demikian seterusnya sehingga cabang-cabang ilmu rasional menjadi banyak.[15] Tetapi mengapa kemudian pohon yang diberkati tersebut disebut zaitun. Menurut al-Ghazâlî, pohon zaitun adalah istimewa, karena intisari dari buahnya adalah minyak zaitun, yang bisa dijadikan minyak bagi lampu. Sedangkan disebut diberkati (mubarakah) adalah karena dalam masyarakat Arab, ketika hewan piaraan atau pohon menghasilkan banyak turunan atau buah, maka mereka disebut “diberkati.” Karena itu akan lebih pantas untuk menyebut pohon yang buahnya tidak mengenal batas (daya reflektif manusia) dengan “pohon yang diberkati.” Sedangkan disebut “tidak Timur dan tidak juga Barat (lâ syarqiyyatan wa-lâ gharbiyyatan) adalah karena pemikiran-pemikiran murni rasional tidak bisa dikatakan memiliki arah, atau jarak dekat atau jauh,[16] dan karena itu tidak pantas untuk disebut Timur atau Barat.

Terakhir, minyak zaitun yang akan menyala sekalipun tidak disentuh api (yakâdu zaitu-hû yudhî’u wa-law lam tamsashu nâr), menurut al-Ghazâlî, merujuk pada daya-daya suci/kenabian, yang dinisbatkan kepada para wali ketika ia mencapai tingkatnya yang paling mulia dan murni. Daya reflektif terbagi kepada dua jenis; pertama, yang membutuhkan pengajaran, penyadaran dan bantuan dari luar, sehingga ia dapat terus mengambil bagian dari banyak jenis ilmu pengetahuan. Jenis kedua, karena memiliki kemurniannya yang begitu intens. Ia tersadarkan dengan sedirinya tanpa bantuan dari luar. Yang terakhir inilah yang pantas disebut “minyak yang akan menyala sekalipun tidak tersentuh api.”[17] Begitu intensnya kemurnian mereka, sehingga di antara para wali, menurut al-Ghazâlî, ada yang cahayanya bersinar demikian intensnya sehingga bisa terlepas dari bantuan Nabi, sebagaimana di antara para Nabi ada yang dapat terlepas dari bantuan malaikat. Tetapi kalau minyak tersebut disulut api, maka inilah yang disebut dalam ayat di atas “nûr ‘alâ nûr” (cahaya di atas cahaya).[18]

Dengan ini jelas bagi kita bahwa yang dimaksud dengan “cahaya” dalam ayat “Allah akan membimbing dengan cahayanya, siapa yang dikehendaki,” bukan hanya berupa agama, sebagaimana yang sering dipikirkan, tetapi juga juga melipuri semua daya-daya jiwa yang dimiliki manusia, seperti indera, akal, imajinasi, daya fikir, dan intuisi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Allah membimbing manusia melalui indera, akal, imajinasi, dan hati atau intuisi. Karena itu kalau kita ingin mendapat bimbingan dari Allah, kita harus menggunakan daya-daya tersebut sebaik-baiknya.

Metode Tafsir Sufistik

Dalam bagian akhir ini saya ingin menyinggung sedikit berkenaan dengan metode tafsir sufistik yang digunakan al-Ghazâlî dalam karya ini. Setidaknya al-Ghazâlî telah meluaskan, melalui karyanya ini, wawasan kita tentang tafsir, yang selama ini cenderung hanya kepada tafsir lahiriyah saja. Al-Ghazâlî, dengan ini, ingin mengatakan bahwa selain makna lahiriyah, al-Qur’ân juga perlu ditafsirkan secara batiniyah. Karena menurut beliau Nabi pernah bersabda bahwasanya “al-Qur’ân memiliki makna lahir dan batin, batas dan tempat mendaki (al-mathla’).”[19] Kalau kita hanya menafsirkannya secara lahiriah, maka kita akan menjadi kaum literalis, dan ini tidak cukup. Demikian juga kalau kita hanya memakai makna batiniah, kita akan menjadi kaum batini, yang juga tidak ia sukai. Adapun jalan yang benar adalah yang memperhatikan kedua makna tersebut.

Kalau kita simak tafsir Misykât al-Anwâr, tentau kita tahu bahwa ia adalah tafsir batini. Tetapi al-Ghazâlî meminta kita untuk tidak beranggapan bahwa ia memperbolehkan penghapusan makna lahiriah sehingga ia akan berkata, misalnya, bahwa Nabi Musa tidak punya dua terompah dan bahwa ia tidak mendengar Tuhan yang memerintahkannya untuk melepas kedua teropahnya. Tidak, itu terlarang! Yang benar, menurut al-Ghazâlî adalah, “dengan perintah melepaskan dua terompah, Musa memahaminya sebagai melepaskan dua dunia. Dengan begitu Musa melaksanakan perintah tersebut, secara lahiriah dengan melepaskan terompah yang digunakannya, dan secara batiniah dengan melepaskan dua dunia tersebut. Inilah yang disebut “crossing over” yakni menyeberang dari yang satu kepada yang lain dari makna lahir ke rahasia.[20] Dengan demikian ia tidak meninggalkan kedua makna dari ayat tersebut. Mengambil hanya makna batinnya saja, adalah seperti kaum Batiniyah dengan hanya satu mata dan bisa melihat hanya satu dari dua dunia tanpa mengakui kesejajaran antara keduanya atau memahami maknanya. Demikian juga sama kelirunya mereka yang menafikan makna batin al-Qur’ân, seperti kaum zhahiri. Yang sempurna adalah yang menggabungkan kedua makna tersebut.

Selain terhadap ayat Qur’an, tafsir sufistik juga bisa diterapkan pada hadits Nabi. Al-Ghazâlî sendiri memberi contoh sebagai berikut. Orang-orang berbeda pendapat, demikian al-Ghazâlî menulis, ketika mendengar sabda Nabi yang berbunyi. “Malaikat tidak akan masuk ke sebuah rumah yang di dalamnya ada seekor anjing” tetapi membawa masuk anjing ke dalam rumahnya. Ia berkata: “Makna lahiriah bukan yang dimaksud. Tetapi yang dimaksud adalah singkirkan anjing kemarahan dari rumah hatimu, karena ia akan mencegah masuknya pengetahuan, yang berasal dari cahaya-cahaya malaikat, karena kemarahan adalah roh jahat (ghaul) dari daya rasional. Seseorang mengambil makna lahiriahnya, maka ia berkata kepadanya: “Anjing bukan menjadi anjing karena bentuk luarnya, tetapi karena esensinya, yaitu sifat memangsa dan keganasannya. Jika kita perlu menjaga rumah kita, yang merupakan tempat beristirahat seseorang dan tubuh, dari bentuk anjing, maka akan lebih perlu lagi untuk menjaga rumah hati –tempat bertirahnya substansi sejati khas manusia– dari kejahatan yang serupa dengan anjing.” Dengan demikian, “saya,” kata al-Ghazâlî, “telah menggabungkan makna yang lahir dan makna batinnya.”[21]

Catatan terakhir berkenaan dengan penafsiran sufistik ini adalah pengetahuan apa yang melatar-belakangi penafsirannya itu. Tentu saja sebelum menafsirkan ayat “cahaya” di atas, al-Ghazâlî harus telah memiliki pengetahuan yang memadai tentang daya-daya jiwa yang disebutnya “al-arwâh al-basyariyyah al-nûriyyah.” Dan kalau dilihat dari deskripsinya, boleh jadi bahwa ia telah banyak belajar dari teori-teori psikologi yang telah berkembang sebelumnya, khususnya oleh para filosof, seperti Ibn Sina dalam al-Syifa’ atau al-Najah, dan sumber-sumber lain yang lebih bersifat sufiistik. Dengan demikian kita bisa belajar dari sini, bahwa penafsiran al-Qur’ân, apakah itu bersifat konvensional, sufistik atau filosofis, banyak tergantung pada perkembangan ilmiah pada masanya. Dan kalau al-Ghazâlî bisa menafsirkannya berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya, maka kemungkinan itu juga bisa kita miliki oleh orang-orang pada masa ini dan di masa yang akan datang, mengikuti irama perkembangan ilmu pengetahuan.[]

[1]Tulisan ini didasarkan pada Kitab Misykât al-Anwâr, karangan al-Ghazâlî, yang diedit dan diterjemahkan oleh David Buchman. Muhammad al- Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, (Provo, Utah: Brigham Young University Press, 1998), ed. David Buchman.

[2]Dikatakan misalnya bahwa Suhrawardi sangat menyukai Misykât al-Anwâr, sehingga ia dikatakan telah menerjemahkannya ke bahasa Persia. Dan bukan suatu kebetulan bahwa dalam bukunya Hikmat al-Isyrâq, Suhrawardi menggunakan simbolisme cahaya sebagai dasar bagi filsafatnya.

[3]Lihat al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 1.

[4]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 1.

[5]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 6.

[6]Lihat Montgomery Watt, “A Forgery in al-Ghazâlî’s Mishkat,” dalam Juornal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Irland, 194, h. 5-22.

[7]Misalnya, konsep al-Ghazâlî tentang khayal, sebagai daya retentif, yang merekam gambar fisik sebuah benda, setelah benda itu tidak ada. Ini sangat mirip dengan apa yang dikatakan Ibn Sina di dalam Kitâb al-Najâh-nya. Lihat Ibn Sina, Kitâb al-Najâh, Beirut: Dâr al-Afâq al-Jadîdiyah, 1985, h. 201.

[8]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 44.

[9]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 4.

[10]Ada contoh yang menarik tentang hirarki cahaya ini yang diberikan al-Ghazâlî. Misalnya cahaya yang kita terima dari bulan, tetapi yang terpantul lewat tembok. Cahaya yang berasal dari tembok, tentu tidak akan begitu terang, dibandingkan dengan cahaya yang dipantulkan oleh kaca kepada tembok itu. Demikian juga cahaya cermin yang dipantulkan ke tembok, tidak akan seintensif cahaya bulan yang dipancarkan kepada cermin tersebut. Namun cahaya bulanpun, kata al-Ghazâlî, tidak akan seintensif cahaya matahari yang dipancarkan ke bulan. Lihat Misykât al-Anwâr, h.14.

[11]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 3.

[12]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 36.

[13]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 39.

[14]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 39.

[15]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 40.

[16]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 40.

[17]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 41.

[18]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 13.

[19]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 32

[20]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 32.

[21]Al-Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, h. 33.

Categories: Uncategorized

KEHEBATAN SHOLAWAT

September 13, 2011 Leave a comment

Imam Muhammad ibn Sulaiman Al Jazuli, seorang ulama yang masyhur di kalangan ahlussunah wal jama’ah, suatu ketika tengah berjalan-jalan di padang pasir. Ketika waktu shalat tiba, beliau berusaha mencari sumber air untuk berwudhu dan melepaskan dahaganya. Setelah beberapa saat menyusuri padang pasir, beliau menemukan sebuah sumur yang sangat dalam. Sumur itu masih menyimpan air, tapi sayang Imam Jazuli tak menemukan alat untuk mengambil air dari sumur.

Ketika beliau tengah kebingungan mencari alat untuk mengambil air, tiba-tiba beliau melihat seorang anak perempuan kecil menghampiri beliau dari tempat ketinggian. Anak kecil itu bertanya, “Siapakah anda, Tuan, mengapa anda berada di tempat yang sesunyi ini?”

Imam Jazuli lantas menjelaskan hal ihwal beliau dan kesulitan yang tengah menimpanya.

“Anda adalah laki-laki terpuji yang terkenal karena kesalehan Anda!” seru anak kecil itu. Anak kecil perempuan itu tampak kebingungan mencarikan alat untuk mengeluarkan air dari dalam sumur. Setelah agak lama mencari namun tak juga menemukan, si anak lalu mendekat ke bibir sumur dan meludah ke dalamnya.

Ajaib, air sumur tiba-tiba meluap sampai ke atas permukaan tanah!

Setelah minum dan merampungkan wudhu’nya, Imam Jazuli lantas berkata, “Wahai anak kecil, sungguh aku kagum kepadamu! Dengan amal apakah engkau dapat meraih kedudukan setinggi ini?”

Anak perempuan kecil itu menjawab, “Dengan memperbanyak membaca shalawat kepada orang yang apabila ia (Nabi Muhammad saw) berjalan di padang belantara, binatang-binatang buas akan mengibas-ngibaskan ekornya (menjadi jinak).”

Setelah mendengar penuturan anak kecil itu, Imam Al Jazuli lantas bersumpah untuk menyusun sebuah kitab yang membahas tentang shalawat untuk Nabi Muhammad saw. Kelak, setelah kitab tersebut selesai ditulisnya, kitab itu dinamainya Dalailul Khairat. Sebuah kitab yang masih terus dibaca hingga kini karena keberkahannya yang luarbiasa.

Categories: Uncategorized

DIALOQ PARA WALI

September 12, 2011 Leave a comment

”Dunia ini fana anehnya orang-orang memperebutkan yang fana. Allah itu kekal dan maha Suci anehnya orang-orang pada lari dari yang maha Suci”. Berakalkah?

“Wahai kekasih Allah jadikanlah lisan dan hatimu tuk berdzikir, keluar masuk nafas akan dipertanggung jawabkan, mau kemana, untuk apa , kembali kemana, apa yang dibawa. Gemuruh ombak, burung berkicau, semua makhluk memuji Allah…yang berakal kadang kalah oleh makhluk lainnya anehkan…!

Wahai hamba Allah jadikan tujuanmu untuk Allah. Jangan jadikan Allah ditelapak tanganmu, jadikan Allah diisi hatimu. Jadilah engkau kekasih Allah”.

“Wahai kekasih Allah…dunia itu bagaikan sampah yang sudah rusak. Bila kau pegang dengan tanganmu akan kena kotor.

Orang risau dan bingung dengan urusan dunia ,karena ia simpan di hati. Dan sedikit orang bingung bagaimana agar dekat dengan Allah”..sehingga ia terus mencari…

“Wahai hamba yang teraniaya bangunlah! Jadikanlah tempat dudukmu sejadah, senjatamu tasbih, bukumu Al-Qur’an, lisanmu untuk memuji, aqalmu untuk bertafakur, mata untuk menangis dan hatimu Allah..tujuanmu Allah , harapanmu Allah. Jadilah kekasih Allah, Allah akan mengabulkanmu sayang..”.

“Wahai kekasih..tidurmu, hembusan napasmu, detakan jantungmu, urat nadimu, aliran darahmu…, jadi barokah dan rahmat dalam tidurmu..”.

“wahai sahabatku.. Sejauh-jauh burung terbang mengelilingi dunia, pasti akan kembali ke titik akhir. Dan yang hanya didapat hanyalah pengalaman dan makanan.

Sejauh-jauhnya manusia merantau pasti akan kembali keasal muasal (titik penghabisan). Dan yang ia dapat pengalaman dan amal. Dunia adalah tempat menanam benih dan akhirat tempat memetik hasilnya sahabatku… pahitkah! Maniskah! Dihadapan Allah. Maha Suci Allah…

Sekuat-kuatnya pohon diterjang badai akan roboh. Sekuat-kuatnya manusia takan kuat menahan pedihnya mati. Nabi Musa a.s. pun merasa pedih ketika dicabut ruhnya apalagi kita..sahabatku…,

Wahai hamba Allah .. Sesungguhnya nama Allah itu nama yang agung dari segala yang agung. Ia memiliki 4 huruf;Alif, Lam, Lam, Ha. Nabi Muhammad 4 huruf; Mim, Ha, Mim, Dal. Dan beliau memiliki 4 sifat; Shidiq, Amanah. Fathanah, Tabligh. Sahabat beliau pun 4; Abu Bakar, Utsman, Ali dan Umar bin khatab.

Apabila nama Allah telah terpatri di hati seorang mu’min, maka ia akan diagungkan dan ditinggikan derajatnya. Dan termasuk wewangian Allah di dunia.Sahabatku.. mudah-mudahan kita termasuk pilihanNya…

Kenapa banyak orang sangat mengharapkan kedudukan di pemerintahan. Padahal kursi dihadapan Allah masih kosong…, anehkan!

Orang buta masih bisa jalan benar karena bantuan tongkatnya. Orang melek tidak bisa jalan benar kepada Allah karena buta hatinya. Karena itu yang melek pun harus punya tongkat (agama)sebagai petunjuknya. Sedangkan orang yang sudah punya agama Islam tapi tidak bisa dekat kepada Allah harus punya tongkat yaitu guru Mursyid sebagai petunjuknya.

Allah itu telah membagi rizki pada setiap hambanya, tapi anehnya orang bingung memikirkan rizkinya. Allah telah menjadikan hamba-hambaNya pada tempatnya masing-masing, tapi anehnya orang pingin yang lebih dari itu. Hal yang anehkan?

Wahai kekasih Allah…3 macam yang asing di dunia :Qur’an di dalam dada seorang yang dholim. 2. Orang sholeh di tengah kaum yang jahat. 3. Qur’an di dalam rumah yang tidak dibaca. Sungguh asing saudaraku…

Wahai hamba Allah… semua orang pada tahu bahwa siksa itu ada tapi kenapa orang banyak tertawa. Maut itu pasti datang kenapa orang banyak berhura-hura. Hisab itu pasti kenapa orang banyak beramal buruk. Qodha dan Qadar udah tentu kenapa orang banyak bersedih. Surga itu pasti kenapa orang tidak banyak beramal…
kenapa mereka berbuat begitu sungguh sayang sahabatku….(Abah Anom)

Categories: Uncategorized

Murah Hati (Dermawan)

August 1, 2011 3 comments

Rasulullah SAW bersabda : “Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika dia terpeleset (jatuh). Seorang pemurah hati dekat kepada Allah, dekat kepada manusia dan dekat kepada surga. Seorang yang bodoh tapi murah hati (dermawan) lebih disukai Allah daripada seorang alim (tekun beribadah) tapi kikir”.

(HR. Ath-Thabrani)

Categories: Uncategorized

Pesan Malaikat Maut untuk Nabi Yakub

August 1, 2011 Leave a comment

Nabi Yakub adalah putra Nabi Ishak dan cucu Nabi Ibrahim. Ia dikenal juga dengan nama Isra’il, sehingga anak keturunannya disebut Bani Isra’il. Konon, Nabi Yakub bersaudara dengan Malaikat Maut.
Suatu hari, Malaikat Maut datang mengunjungi Nabi Yakub. Melihat kedatangan malaikat itu, Nabi Yakub bertanya, “Wahai Malaikat Maut, engkau datang untuk mencabut nyawaku atau hanya sekedar berkunjung?”
“Aku datang hanya untuk berkunjung saja,” jawab Malaikat Maut.
“Baiklah kalau begitu,” kata Nabi Yakub. Dalam percakapan selanjutnya, Nabi Yakub bertanya pada Malaikat Maut, “Bolehkah aku memohon satu permintaan kepadamu?”
“Apa permintaanmu, wahai Nabi Allah?”
“Jika sudah tiba waktunya nanti, ketika engkau telah diutus untuk mencabut nyawaku, tolong berilah tanda kepadaku sebelumnya.”
“Baiklah,” jawab Malaikat Maut menyanggupi permintaan Nabi Yakub.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti tahun. Malaikat Maut datang kembali dan bertemu Nabi Yakub. Seperti biasa, Nabi Yakub bertanya, “Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku atau sekedar berkunjung?”
“Kali ini aku diutus untuk mencabut nyawamu.”
“Bukankah engkau telah berjanji untuk memberi tanda sebelum saat ini terjadi?” kata Nabi Yakub.
“Benar, dan aku telah melakukan itu. Hanya saja kamu tak menyadarinya. Bukankah kemarin aku datang menjemput keponakanmu, sementara engkau berada di sana?” Ia kemudian melanjutkan, “Aku pun telah mengirim utusan kepadamu. Rambutmu yang dulu hitam kini telah memutih. Tubuhmu yang dulu kekar dan kuat kini melemah. Dulu kamu berjalan dengan tubuh tegak sekarang menjadi bungkuk. Tidakkah kau sadar, semua itu adalah utusanku pada anak Adam sebelum ajal menjemputnya?”.

Dinukil dari kitab al-Buka’ min Khasyatillah karangan Syaikh Abdurrahman as-Sinjari. Juga kisah dari kitab Zahri Riyadh.

Categories: Uncategorized

Nasehat-Nasehat dari Taurat

August 1, 2011 Leave a comment

Syeh Nawawi Al Bantaniy menerangkan bahwa Imam Wahab bin Munabbih, semoga Allah merahmati beliau, berkata: “Telah tertulis dalam kitab Taurat duapuluh nasihat dan ditambahkan oleh Imam Nawawi tujuh (7) nasehat sehingga menjadi dua puluh tujuh (27) nasehat:

Taqwa
1. Barangsiapa yang mencari bekal di dunia untuk perjalanan akhirat dengan taqwa, yaitu menjauhi setiap sesuatu yang dikhawatirkan akan membahayakan agama, maka di hari kiamat dia akan menjadi kekasih Allah.

Marah
2. Barangsiapa yang meninggalkan marah, maka dia akan menjadi tetangga Allah.
Rasulullah saw. bersabda
“Bukanlah orang yang kuat itu sebab membanting lawannya; sesungguhnya orang yang kuat itu hanyalah orang yang dapat menguasai dirinya pada waktu marah”.
Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Barangsiapa yang dapat menahan marahnya, niscaya Allah akan menahan siksa-Nya terhadap dirinya”.

Mencintai Kesenangan Dunia
3. Barangsiapa yang meninggalkan kesenangan hidup di dunia dengan tidak mencintai kesenangan-kesenangan di dunia, niscaya di hari kiamat dia akan menjadi orang yang aman dan selamat dari siksa Allah.

Hasud
4. Barangsiapa yang meninggalkan perbuatan hasud, niscaya di hari kiamat dia akan menjadi orang yang terpuji di hadapan para makhluk.
Rasulullah saw. bersabda:
“Awas-awas kamu, jauhilah olehmu sekalian perbuata hasud; karena sesungguhnya kedua putera nabi Adam, salah seorang dari keduanya membunuh saudaranya hanyalah karena hasud”.

Sombong
5. Barangsiapa yang meninggalkan kesenangan berlagak, niscaya di hari kiamat dia akan menjadi orang yang mulia di sisi Dzat Yang Maha Merajai lagi Maha Perkasa.
Telah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Tiadalah seseorang laki-laki yang mengagungkan dirinya dan sombong dalam berjalan, kecuali dia akan bertemu Allah sedangkan Allah sangat murka kepadanya”. HR. Imam Ahmad, Bukhari dan Al Hakim.

Harta, Pangkat dan Tahta
6. Barangsiapa yang meninggalkan kelebihan-kelebihan di dunia dari: omongan, harta, pangkat dan lainnya dari hal-hal yang mubah yang dapat menempatkan dalam kemaksiatan dan kelalaian, niscaya dia akan menjadi orang yang akan diberi kelapangan dalam makanan-makanan bersama orang-orang abrar (orang-orang yang berbuat kebajikan).

Permusuhan
7. Barangsiapa yang meninggalkan permusuhan di dunia, niscaya di hari kiamat dia termasuk orang-orang yang berbahagia, selamat dan memperoleh kebaikan.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Barangsiapa yang meninggalkan berbantah sedangkan dia tidak berhak membantah, niscaya akan dibangunkan rumah baginya di sebuah tempat di sorga. Barangsiapa yang meninggalkan berbantah sedangkan dia berhak untuk membantah, niscaya akan dibangunkan rumah baginya di tengah-tengah sorga. Dan barangsiapa yang membaguskan akhlaknya, niscaya akan dibangunkan rumah baginya di atas sorga”.

Kikir
8. Barangsiapa yang meninggalkan sifat kikir di dunia, niscaya dia akan menjadi orang yang disebut-sebut di hadapan para makhluk. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Tidak dapat berkumpuk iman dan sifat kikir dalam hati seorang mukmin selama-lamanya”. HR Ibnu Sa’ad.
Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Penyakit manakah yang lebih berbahaya dari pada sifat kikir?” HR Imam Ahmad, Bukhori dan Muslim.

Berleha-leha
9. Barangsiapa yang meninggalkan beristirahat di dunia, yakni dengan memayahkan dirinya untuk taat kepada Allah, niscaya di hari kiamat dia akan menjadi orang yang disenangkan di sorga.

Makanan, Minuman, Pakaian, Ucapan, dan Perbuatan Haram
10. Barangsiapa yang meninggalkan haram, dalam makanan, minuman, pakaian, ucapan dan perbuatan, niscaya di hari kiamat dia akan menjadi tetangga para nabi a.s.

Pemandangan Haram
11. Barangsiapa yang meninggalkan memandang sesuatu yang haram di dunia, niscaya di hari kiamat Allah akan menggembirakan matanya di sorga dengan dapat memandang apa yang akan menyenangkan dia dari hal-hal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah dibayangkan dalam hati.
Barangsiapa yang meninggalkan kekayaan di dunia dan memilih kefaqiran, niscaya di hari kiamat Allah akan membangkitkannya bersama para wali dan para nabi.
Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
“Jika kamu mencintaiku maka bersiap-siaplah kamu untuk faqir dengan menghabiskan hartamu, karena sesungguhnnya faqir itu lebih cepat (sampai) kepada orang yang mencintaiku dari pada banjir ke muaranya. HR. Imam Ahmad dan At Turmudzi.

Bekerja
12. Barangsiapa yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia di dunia, niscaya Allah akan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya di dunia dan akhirat.
Nabi Muhammad saw. telah bersabda:
“Barangsiapa yang memenuhi satu kebutuhan dari saudaranya yang muslim, niscaya baginya ada pahala seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan umroh”.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Barangsiapa yang memenuhi satu kebutuhan dari saudarannya yang muslim, niscaya baginya ada pahala seperti pahala orang yang mengabdi (ta’at) kepada Allah selama hidupnya”.
Hal tersebut seperti yang dikatakan oleh Imam Al Hifni: “Yakni seperti orang yang shalat selama hidupnya. Karena sesungguhnya shalat adalah pengabdian kepada Allah di bumi”, sebagaimana yang dikatakan pula oleh imam Al ‘Azizi.

Penghibur dalam Kubur
13. Barangsiapa yang ingin mempunyai penghibur di dalam kuburnya, maka hendaklah dia bangun pada waktu gelap malam dan hendaklah dia shalat sunnat meskipun hanya satu raka’at.

Zuhud
14. Barangsiapa yang ingin berada di bawah naungan ‘arasy dari Dzat Yang Maha Penyayang, maka hendaklah dia menjadi orang yang zuhud, yakni orang yang berpaling dengan hatinya dari dunia.
Nabi Muhammad saw. telah bersabda:
“Permulaan ummat ini selamat sebab zuhud dan keyaqinan, dan akhir dari umat ini akan celaka sebab tamak dan angan-angan yang panjang”.

Penasehat diri
15. Barangsiapa yang ingin perhitungan amalnya mudah, maka hendaklah dia menjadi penasehat bagi dirinya sendiri dan saudara-saudaranya. Diriwayatkan dari sahabat ‘Utsman bin ‘Affan, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda:
“Barangsiapa yang hari demi hari kebaikannya tidak bertambah, maka orang tersebut adalah orang yang bersiap-siap ke neraka dengan nyata”. HR. Al ‘Askari.
Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Jika salah seorang dari kamu menemukan nasihat dalam dirinya bagi saudaranya, maka hendaklah dia menuturkan nasehat tersebut kepadanya”. HR. Ibnu ‘Adi.

Wara’
16. Barangsiapa yang ingin para malaikat mengunjunginya, maka hendaklah dia menjadi orang yang wara’. Sifat wara’ adalah syarat dalam melakukan istiqamah dalam agama. Sifat wara’ yang paling rendah adalah sifat wara’ dari orang-orang yang adil yang disebutkan dalam kesaksian, dan sifat wara’ yang paling tinggi adalah sifat wara’ dari orang-orang yang shiddiq.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Sebaik-baik pekerjaan agamamu adalah wara’”.

Tengah Surga
17. Barangsiapa yang ingin bertempat tinggal di tengah-tengah surga, maka hendaklah dia menjadi orang yang mengingat Allah di waktu malam dan siang hari.
Imam Al Qusyairi berkata:
“Seseorang hamba tidak dapat sampai kepada Allah kecuali dengan melanggengkan dzikir. Sedang dzikir itu ada dua macam: dzikir lisan dan dzikir hati. Dzikir lisan itu dapat menyampaikan hamba pada melanggengkan dzikir hati dan dalam memberi pengaruh bagi dzikir hati. Maka tatkala hamba itu berdzikir dengan lisan dan hatinya, maka dia adalah orang yang sempurna dalam sifatnya dalam keadaan menempuh jalan menuju ridla Allah.

Tanpa Perhitungan
18. Barangsiapa yang ingin masuk surga tanpa perhitungan amal, maka hendaklah dia bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha.
Imam Al Qusyairi berkata:
“Taubat itu adalah permulaan persinggahan dari persinggahan-persinggahan orang-orang yang menempuh jalan menuju ridla Allah dan permulaan pangkat dari pangkat-pangkat orang-orang yang menuntut ridla Allah.
Ahli ma’rifat berkata:
“Basuhlah empat perkara dengan empat: Basuhlah mukamu dengan air matamu. Basuhlah lidahmu dengan dzikir kepada Penciptamu. Basuhlah hatimu dengan takut kepada Tuhanmu. Dan basuhlah dosa-dosamu dengan bertaubat kepada Tuhanmu”.

Orang Kaya
19. Barangsiapa yang ingin menjadi orang kaya, maka hendaklah dia rela dengan apa yang Allah telah bagikan kepadanya dan kepada orang lain, mengenai harta, pangkat dan lainnya.
Abdul Wahid bin Zaid berkata:
“Rela itu adalah pintu Allah yang paling agung dan sorga dunia”.

Pandai
20. Barangsiapa yang ingin menjadi orang yang pandai beserta Allah, maka hendaklah dia menjadi orang yang khusyu’ dalam urusan-urusan agamanya. Artinya menjadi orang yang tunduk pada urusan-urusan agama tersebut karena kebenaran, serta menerima kebenaran tersebut dari orang yang manapun yang mengatakannya.

Bijaksana
21. Barangsiapa yang ingin menjadi orang yang bijaksana, maka hendaklah menjadi orang yang pandai.
Telah diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang berangkat di waktu pagi atau petang, sedangkan dia dalam mengajarkan agamanya, niscaya dia berada dalam sorga”. HR. Abu Na’im.
Ini adalah apa yang dikatakan pada waktu melaksanakan pelajaran dari Syeikh Ali Al Maghrabi, semoga Allah mensucikan rahasia beliau:
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menitipkan kepada-Mu apa yang telah aku baca. Oleh karena itu kembalikanlah titipan tersebut kepadaku pada waktu aku memerlukannya”.

Selamat dari Kejelekan Manusia
22. Barangsiapa yang ingin menjadi orang yang selamat dari kejelekan manusia, maka hedaklah dia tidak menyebutkan salah seorang dari mereka kecuali dengan baik. Dan hendaklah dia mengambil pelajaran pada dirinya, dari apakah dirinya diciptakan. Sesungguhnya dia diciptakan dari sperma yang menjijikkan, dan untuk apa dia diciptakan. Dia diciptakan adalah untuk ta’at kepada Allah ta’ala.

Kemuliaan Dunia Akhirat
23. Barangsiapa yang ingin kemuliaan di dunia dan akhirat, maka hendaklah dia memilih akhirat dari pada dunia, dengan tetap beribadah pada semua waktunya selama dia kuat melakukannya.

Maksiat
24. Barangsiapa yang ingin surga Firdaus dan kenikmatan yang tidak rusak, yakni kenikmatan sorga, maka hendaklah dia tidak menyia-nyiakan umurnya dalam kerusakan dunia dengan melakukan perbuatan maksiat.

Dermawan
25. Barangsiapa yang ingin kesenangan di dunia dan akhirat, maka wajib baginya bersifat dermawan. Karena sesungguhnya orang yang dermawan itu dekat dengan sorga dan jauh dari neraka.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra.: “Rasulullah saw. telah bersabda:
“Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah ta’ala, dekat dengan manusia, dekat dengan sorga dan jauh dari neraka. Orang yang kikir itu jauh dari Allah ta’ala, jauh dari manusia, jauh dari sorga dan dekat dengan neraka. Dan orang bodoh yang dermawan itu lebih dicintai oleh Allah ta’ala dari pada orang yang ahli ibadah yang kikir”.
Di antara cerita dari orang-orang yang mulia adalah bahwasannya Hasan dan Husein serta Abdullah bin Ja’far telah keluar untuk melaksanakan ibadah haji, kemudian bekal mereka hilang sehingga mereka kelaparan dan kehausan. Kemudian mereka melewati rumah seorang wanita tua yang di dalamnya ada seekor domba. Mereka meminta kepada wanita tersebut, lalu wanita tua itu memberi minum mereka susu domba tersebut dan dia menyembelihnya untuk mereka. Setelah suatu waktu, Hasan melihat wanita tua itu di Madinah dan dia mengenalinya, lalu dia memberi wanita tua itu seribu ekor domba dan seribu dinar, lalu dia mengantarkan wanita itu kepada saudaranya, Husein. Husein pun memberi wanita itu sama seperti Hasan. Kemudian ia mengantarkannya kepada Ibnu Ja’far At Thayyar dan Ibnu Ja’far memberinya dua ribu ekor domba dan dua ribu dinar. Ibnu Ja’far berkara:
“Andaikan engkau datang pertama kali kepadaku, niscaya aku akan membuat payah Hasan dan Husein”. Kemudian wanita tua itu pulang dengan membawa empat ribu ekor domba dan empat ribu dinar.

Tafakur & Mengingat Mati
26. Barangsiapa yang ingin Allah menyinari hatinya dengan cahaya yang sempurna, maka wajib baginya bertafakkur dan mengambil pelajaran dalam keagungan Allah ta’ala dan mengambil nasihat dengan kematian.

Memohonkan Ampunan
27. Barangsiapa yang ingin memiliki badan yang sabar, lisan yang selalu berdzikir dan hati yang khusyu’, maka wajib baginya memperbanyak permohonan ampun bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dan orang-orang muslim laki-laki dan perempuan.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Barangsiapa yang memintakan ampun bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, niscaya Allah akan menulis baginya dengan setiap mukmin laki-laki dan perempuan, satu kebaikan”. HR. At Thabrani dari ‘Ubadah bin As Shomit.
Nabi saw. telah bersabda:
“Barangsiapa yang memohonkan ampun bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan setiap hari duapuluh tujuh kali, niscaya dia termasuk orang-orang yang dikabulkan do’anya dan penduduk bumi diberi rizki sebab mereka”. HR. At Thabrani dari Abu Darda’.

Categories: Uncategorized