Archive

Author Archive

Perjanjian Sabdopalon – Syeh Subakir

May 17, 2015 Leave a comment

Tiknan Tasmaun
25 Jan 2013 | 10:54

Konon ada semacam perjanjian antara Sabdopalon sebagai Pamomong (Danyang Gaib) Tanah Jawa dengan Syeh Subakir sebagai penyebar Agama Islam generasi awal di Jawa ini. Tersebutlah kisah tersebut dalam tulisan lontar kuno. Lontar tersebut diperkirakan ditulis oleh Kanjeng Sunan Drajad atau setidak – tidaknya oleh murid atau pengikut beliau.

Cerita tentang kisah ini pernah dipentaskan sebagai lakon wayang kulit bergenre wayang songsong (wayang kulit yang berisi cerita hikayat dan legenda Jawa) yang digelar di Desa Drajad, Paciran, Lamongan ( sebuah desa tempat situs Sunan Drajad ).

Read more…

Categories: Uncategorized

Ronggowarsito pupuh 257

February 26, 2015 Leave a comment

Pupuh 257 (tembang 28 s/d 44) :

Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana wahyu kang sanyata.

Para pemimpinnya berhati jahil, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati.

Keh wahyuning eblislanat kang tamurun, apangling kang jalma, dumrunuh salin sumalin, wong wadon kang sirna wiwirangira.

Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita untuk membedakannya, para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu.

Tanpa kangen mring mitra sadulur, tanna warta nyata, akeh wong mlarat mawarni, daya deye kalamun tyase nalangsa.

Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita dan banyak orang miskin beraneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.

Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana susila dadra andadi, akeh maling malandang marang ing marga.

Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat, kejahatan / perampokan dan pemerkosaan makin menjadi-jadi dan banyak pencuri malang melintang di jalan-jalan.

Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu gelap cleret warsa.

Alampun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan gempa bumi.

Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun tentreming wardaya.

Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tenteram di hati.

Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar silastuti titi tata.

Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan.

Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida, tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening karoban rubeda.

Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah / kesulitan.

Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita, pra nayaka tyas basuki, panekare becik-becik cakrak-cakrak.

Para pemimpin mengatakan seolah-olah bahwa semua berjalan dengan baik padahal hanya sekedar menutupi keadaan yang jelek.

Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu, mandar sangking dadra, rubeda angrubedi, beda-beda hardaning wong sanagara.

Yang menjadi pertanda zaman Kalabendu, makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat, dan berbeda-beda tingkah laku / pendapat orang se-negara.

Katatangi tangising mardawa-lagu, kwilet tays duhkita, kataman ring reh wirangi, dening angupaya sandi samurana.

Disertai dengan tangis dan kedukaan yang mendalam, walaupun kemungkinan dicemooh, mencoba untuk melihat tanda-tanda yang tersembunyi dalam peristiwa ini.

Anaruwung, mangimur saniberike, menceng pangupaya, ing pamrih melok pakolih, temah suha ing karsa tanpa wiweka.

Berupaya tanpa pamrih.
Ing Paniti sastra wawarah, sung pemut, ing zaman musibat, wong ambeg jatmika kontit, kang mangkono yen niteni lamampahan.

Memberikan peringatan pada zaman yang kalut dengan bijaksana, begitu agar kejadiannya / yang akan terjadi bisa jadi peringatan.

Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa edan yekti nora tahan.

Untuk dibuktikan, akan mengalami jaman gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap, apabila ikut gila/edan tidak tahan.

Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boya keduman, melik kalling donya iki, satemahe kaliren wekasane.

Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa kelaparan.

Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling lawan waspada.

Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT, yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur).

Wektu iku, wus parek wekasanipun, jaman Kaladuka, sirnaning ratu amargi, wawan-wawan kalawan memaronira.

Pada saat itu sudah dekat berakhirnya zaman Kaladuka.

#elinglanwaspodo

Categories: Uncategorized

KEYAKINAN BUKANLAH PENGETAHUAN (MENGETAHUI)

Kutipan tulisan RT Wijayantodipuro, Salatiga, 27 Agustus 2012 yg sdh di-edit (disingkat) :

Mengetahui bentrokan yg terjadi (lagi) antara komunitas Syiah dengan komunitas Sunni di Madura. Maka terbersitlah dipikiranku bhw KEYAKINAN itu sebenarnya tidak perlu diperdebatkan. Jika ingin tahu KEYAKINAN orang lain, tanyakan saja dan mengapa sampai pada KEYAKINAN tersebut. Jika merasa COCOK boleh ikut YAKIN, jika TIDAK COCOK tidak perlu ikut.
Read more…

Categories: Uncategorized

SEJARAH RUNTUHNYA KERAJAAN MAJAPAHIT YANG DI SEMBUNYIKAN PEMERINTAH

March 5, 2014 Leave a comment

RUNTUHNYA MAJAPAHIT

 

Majapahit adalah sebuah Kerajaan besar. Sebuah Emperor. Yang wilayahnya membentang dari ujung utara pulau Sumatera, sampai Papua. Bahkan, Malaka yang sekarang dikenal dengan nama Malaysia, termasuk wilayah kerajaan Majapahit.

 

Majapahit berdiri pada tahun 1293 Masehi. Didirikan oleh Raden Wijaya yang lantas setelah dikukuhkan sebagai Raja beliau bergelar Shrii Kertarajasha Jayawardhana. Eksistensi Majapahit sangat disegani diseluruh dunia. Diwilayah Asia, hanya Majapahit yang ditakuti oleh Kekaisaran Tiongkok China. Di Asia ini, pada abad XIII, hanya ada dua Kerajaan besar, Tiongkok dan Majapahit.

 

Lambang Negara Majapahit adalah Surya. Benderanya berwarna Merah dan Putih. Melambangkan darah putih dari ayah dan darah merah dari ibu. Lambang nasionalisme sejati. Lambang kecintaan pada bhumi pertiwi. Karma Bhumi. Dan pada jamannya, bangsa kita pernah menjadi Negara adikuasa, superpower, layaknya Amerika dan Inggris sekarang. Pusat pemerintahan ada di Trowulan, sekarang didaerah Mojokerto, Jawa Timur. Pelabuhan iInternasional-nya waktu itu adalah Gresik.

 

Agama resmi Negara adalah Hindhu aliran Shiwa dan Buddha. Dua agama besar ini dikukuhkan sebagai agama resmi Negara. Sehingga kemudian muncul istilah agama Shiva Buddha. Nama Majapahit sendiri diambil dari nama pohon kesayangan Deva Shiva, Avatara Brahman, yaitu pohon Bilva atau Vilva. Di Jawa pohon ini terkenal dengan nama pohon Maja, dan rasanya memang pahit. Maja yang pahit ini adalah pohon suci bagi penganut agama Shiva, dan nama dari pohon suci ini dijadikan nama kebesaran dari sebuah Emperor di Jawa. Dalam bahasa sanskerta, Majapahit juga dikenal dengan nama Vilvatikta (Wilwatikta. Vilva: Pohon Maja, Tikta : Pahit ). Sehingga, selain Majapahit ( baca : Mojopait) orang Jawa juga mengenal Kerajaan besar ini dengan nama Wilwatikta ( Wilwotikto

).

 

Kebesaran Majapahit mencapai puncaknya pada jaman pemerintahan Ratu Tribhuwanatunggadewi Jayawishnuwardhani (1328-1350 M). Dan mencapai jaman keemasan pada masa pemerintahan Prabhu Hayam Wuruk (1350-1389 M) dengan Mahapatih Gajah Mada-nya yang kesohor dipelosok Nusantara itu. Pada masa itu kemakmuran benar-benar dirasakan seluruh rakyat Nusantara. Benar-benar jaman yang gilang gemilang!
Read more…

Categories: Uncategorized

Madah Doa

July 25, 2013 Leave a comment

PUJI bagi Khalik Yang Kudus, yang telah menempatkan arasy-Nya di atas perairan, dan yang telah menjadikan segala makhluk di bumi. Kepada langit telah Ia berikan kekuasaan dan kepada bumi kepatuhan; kepada langit telah Ia berikan gerak dan kepada bumi ketenangan yang tetap.

Ia tinggikan angkasa di atas bumi bagai tenda tanpa tiang-tiang penyangga. Dalam enam masa Ia ciptakan ketujuh kaukab dan dengan dua huruf1 Ia ciptakan kesembilan kubah langit.

Pada mulanya Ia sepuh bintang-bintang dengan emas, hingga di rnalam hari langit dapat bermain triktrak.

Dengan berbagai sifat Ia anugerahi jaringan tubuh, dan telah ditaruh-Nya debu pada ekor burung jiwa.2

Lautan Ia jadikan cair sebagai tanda pengabdian, dan puncak-puncak gunung pun bertudung salju karena takut kepada-Nya.

Ia keringkan dasar laut, dan dan batu-batunya Ia hasilkan manikam-manikam mirah, dan dari darah-Nya, wangi kesturi.

Kepada gunung-gunung telah Ia berikan puncak-puncak sebagai golok dan lembah-lembah sebagai ikat pinggang; maka gunung-gunung itu pun menegakkan kepala dengan bangga.

Kadang Ia jadikan kelompok-kelompok mawar timbul dari wajah api.3

Kadang Ia bentangkan titian melintang wajah perairan.4

Dibuat-Nya seekor nyamuk menggigit Nimrod, musuh-Nya, yang menderita empat ratus tahun karenanya.5

Dalam kearifan-Nya Ia menyuruh laba-laba membuat sarang untuk melindungi yang tertinggi di antara manusia.6

Ditekan-Nya pinggang semut hingga semut itu serupa sehelai rambut dan dijadikan-Nya semut itu kawan bagi Sulaiman.7

Read more…

Musuh Terbesarmu

June 28, 2013 Leave a comment

Jika bukan karena perkasanya keakuanmu sendiri,
yang telah menyergapmu dari dalam,
takkan penghadang dari luar diri
mampu mencelakaimu.

Karena tuntutan syahwatmu,
hatimu telah tersandera oleh kerakusan,
cinta-dunia dan niat-buruk.

Sekian lama terpenjara didalam dirimu sendiri,
engkau berubah menjadi pencuri rakus,
yang semakin lemah dihadapan kuasanya.

Simaklah nasehat Sang Nabi nan bijak-bestari:
“Musuh terbesarmu berada diantara ke dua sisimu.”

Sumber:
Rumi: Matsnavi  III: 4063 – 4066
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Categories: Uncategorized

Beberapa Faktor Penyebab Bencana Di Muka Bumi

April 11, 2012 Leave a comment

Dari Buraidah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiadalah suatu kaum yang menahan zakat hartanya, kecuali Allah akan mendatangkan bencana kelaparan kepada mereka.” (Hr. Thabrani; at Targhib, Kanzul ‘Ummal)

Kini semakin banyaknya bencana yang menimpa di bumi Indonesia, negara kita yang tercinta. Dengan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan sekitarnya, Gempa Bumi di Padang, Sumatera Barat, kini kembali Indonesia kembali berduka yang sangat mendalam karena datangnya cobaan yang memporak – porandakan wilayah yang terkena dampak bencana. Lebih parahnya lagi kejadian berlangsung dalam tempo yang sangat singkat dan bergantian, yaitu banjir bandang di Wasior, Papua Barat, gempa dan Tsunami di Kep. Mentawai, Sumutera Barat, juga disusul oleh meletusnya Gunung Merapi di Jogjakarta dan Jawa Tengah hingga mengeluarkan asap panas Wedus Gembel yang suhunya mencapai 600 hingga 900 derajat celcius. Namun apa benar itu merupakan cobaan atau merupakan teguran atau juga azab dari Allah Yang Maha Pencipta, agar kita sadar dan kembali menjalani kehidupan sesuai perintah-Nya.

Penderitaan yang sedang melanda kita atau saudara – saudara kita memang tidak ada batasnya. Berbagai cara ditempuh untuk menghindarinya, tetapi tidak ada hasilnya (mustahil) kecuali Allah sendiri yang mampu menghilangkannya. Allah swt telah memberi berbagai penyakit dan pengobatannya. Begitu juga dengan diri kita setiap penyakit baik itu fisik atau jiwa pasti ada jalan untuk menyembuhkannya bila kita niat dan bsungguh – sungguh.

Rasulullah saw sendiri telah memberi peringatan mengenai semua penderitaan dan bencana di muka bumi ini yang sudah terjadi maupun yang akan datang dan juga memberitahukan penyebabnya. Bahwa apabila umat Rasulullah saw melakukan berbagai keburukan) maka mereka akan mendapatkan musibah berkelanjutan. Bencana – bencana itu diantaranya berupa kegelapan, pembenaman ke dalam tanah, hujan batu dari langit, perubahan wajah manusia, gempa bumi, kemenangan musuh terhadap orang Islam, wabah dan kerusuhan, kemarau panjang, angin topan, ketakutan dalam hati, ditolaknya doa-doa orang saleh dan musibah – musibah lainnya. Semua musibah ini telah diberitahukan oleh Rasulullah 1.400 tahun yang lalu. Dan sekarang kita telah mengalami sebagian darinya. Setiap sabda Rasulullah adalah benar dan terbukti di hadapan kita. Alangkah baiknya jika memperhatikan peringatan-peringatan itu dan berwaspada terhadapnya.
Read more…